Selasa, 11 April 2017

Analisis Puisi Modern Lampung Berjudul Liwa dalam Kumpulan Puisi Mak Dawah Mak Dibingi Karya Udo Z. Karzi



A.    Pendahuluan
Masyarakat Lampung sebenarnya cukup kaya dengan karya sastra berupa adi-adi (pantun), warahan (cerita), hiwang (ratapan yang berirama), wawancan (sejarah), dan sebagainya yang terangkum dalam sastra Lampung. Menurut Bani Sudardi (2010:64), sastra Lampung merupakan sastra yang menggunakan bahasa Lampung sebagai media kreasi, baik sastra lisan maupun sastra tulis. Meskipun kebanyakan masih berbentuk sastra lisan yang sering dilantunkan dalam upacara adat, ada beberapa yang sudah ditulis dan diterbitkan berupa buku. 
Sastra Lampung memiliki kedekatan dengan tradisi Melayu yang kuat dengan pepatah-petitih, mantera, pantun, syair, dan cerita rakyat. Dalam Encyclopedie van Nederlands-indie dikatakan bahwa bahasa daerah Lampung adalah bahasa yang dipergunakan di daerah keresidenan Lampung, di daerah Komering yang termasuk dalam keresidenan Palembang dan di daerah Krui. Menurut van der Tuuk, bahasa Lampung dapat dibagi dalam 2 induk dialek, yaitu dialek Abung dan dialek Pubiyan (Bani Sudardi, 2010:64).
Menurut Bani Sudardi (2010:66), puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan seseorang secara imajinatif dan disusun dengan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan sttruktur batin.
Berdasarkan fungsinya, ada lima macam puisi dalam khasanah sastra tradisional lisan Lampung, yaitu paradinei atau paghadini, pepaccur atau wawacan, pattun atau adi-adi, bebadung, dan ringget (Bani Sudardi, 2010: 66).
Akan tetapi semua karya sastra dalam bahasa Lampung itu tergolong sastra tradisional yang sangat terikat kepada aturan bait dan rima yang ketat. Satu bait pantun tradisional Lampung (adi-adi) harus terdiri atas empat baris, satu baris harus mengandung tujuh suku kata, dan harus berstruktur a-b-a-b (Saliwa, 2011:online).
Adapun karya sastra modern dalam bahasa Lampung selama ini dikatakan belum ada. Sastrawan modern yang tinggal di Lampung cukup banyak, tetapi umumnya menuliskan karya sastra mereka dalam bahasa Indonesia. Belum ada yang menggunakan bahasa ibu (mother language), yaitu bahasa Lampung, sebagai wahana atau medium sastra modern. Akibatnya, dunia sastra Lampung selalu dalam kondisi “hidup segan mati tak mau”, jauh tertinggal dari sastra Sunda, Jawa, dan Bali yang sudah lama memiliki sastra modern di samping tetap melestarikan sastra tradisional.
Itulah sebabnya buku kumpulan 50 sajak berbahasa Lampung dari Udo Z. Karzi (nama pena dari Zulkarnain Zubairi), yang berjudul Mak Dawah Mak Dibingi (Tak Siang Tak Malam), merupakan terobosan besar yang mendobrak kebekuan dunia sastra Lampung. Sajak-sajak Udo Z. Karzi betul-betul membebaskan diri dan tidak merasa terikat dengan aturan puisi tradisional Lampung. 
Penulis akan menganalisis salah satu puisi yang disajikan dalam kumpulan puisi Mak Dawah Mak Dibingi dengan judul Liwa. Dalam menelaah atau menganalisis karya sastra ada beberapa komponen salah satunya adalah nilai yang terkandung dalam karya sastra itu sendiri.

B.     Nilai Sastra
Dengan membaca karya sastra, kita akan mem­peroleh "sesuatu" yang dapat memperkaya wawasan atau meningkatkan harkat hidup. Dengan kata lain, dalam karya sastra ada sesuatu yang ber­manfaat bagi kehidupan.
Karya sastra (yang baik) senantiasa mengandung nilai (value). Nilai itu di­kemas
dalam wujud struktur karya sastra, yang secara implisit terdapat dalam alur,
latar, tokoh, tema, dan amanat atau di dalam larik, kuplet, rima, dan irama.
Nilai yang terkandung dalam karya sastra itu, antara lain, adalah sebagai ber­ikut:
1.      Nilai hedonik (hedonic value), yaitu nilai yang dapat memberikan kese­nangan
secara langsung kepada pembaca;
2.      Nilai artistik (artistic value), yaitu nilai yang dapat memanifestasikan suatu seni atau keterampilan dalam melakukan suatu pekerjaan;
3.      Nilai kultural (cultural value), yaitu nilai yang dapat memberikan atau me­ngandung
hubungan yang mendalam dengan suatu masya­rakat, peradaban, atau kebuda­yaan;
4.      Nilai etis, moral, agama (ethical, moral, religious value), yaitu
nilai yang da­pat mem­berikan atau memancarkan petuah atau ajaran yang
berkaitan de­ngan etika, moral, atau agama;
5.      Nilai praktis (practical value), yaitu nilai yang mengandung hal-hal praktis yang
dapat diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari (Arista Serenade, 2011: online).

C.    Nilai Manfaat
Seperti yang telah dijelaskan dalam bab pendahuluan bahwa puisi Lampung mempunyai beberapa macam. Dari beberapa macam puisi-puisi yang dijabarkan itu mengandung nilai-nilai manfaat dari masing-masing puisi.
Paradinei merupakan puisi tradisi Lampung yang biasa digunakan dalam upacara penyambutan tamu pada saat berlangsung pesta pernikahan secara adat. Pepacur adalah puisi Lampung yang berisi nasihat atau pesan-pesan setelah pemberian adok 9gelar adat) kepada bujang-gadis sebagai penghormatan atau tanda telah berumah tangga dalam pesta pernikahan. Pattun adalah salah satu jenis puisi tradisi Lampung yang lazim di kalanan etnik Lampung digunakan dalam acara-acara yang bersifat bersukaria. Bebandung merupakan puisi Lampung yang berisi petuah-petuah atau ajaran-ajaran yang berkenaan dengan agama Islam. Ringget adalah puisi tradisi Lampung yang lazim digunakan sebagai pengantar acara adat, pelengkap acara pelepasan pengantin wanita ke tempat pengantin pria.
Selain puisi tradisi Lampung yang berbahasakan daerah Lampung juga ada puisi modern Lampung yang tentu fungsinya atau nilai manfaatnya sangat banyak. Nilai manfaat ini berkaitan erat dengan fungsi sastra sebagai penghibur dan pendidik, hal ini juga berhubungan dan tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai karya sastra karena antara nilai-nilai sastra dan nilai manfaat mempunyai pengertian yang hampir-hampir mirip.

D.    Analisis Puisi Liwa
Puisi Asli
Terjemahan
LIWA
api lagi sai dapok kubanggakon jak niku
lemoh ni tanoh subur sai sa kutinggalko tanno mekiyang
way sindalapai, way rubok, way setiwang sai ngaleri hatiku
mak lagi nyani rah semangatku merunggak
ujau ni pematang, biru ni pesagi, bangik ni angin
mak lagi kutunggai delom pujamaan neram nimbi

sakik mataku ngeliak kecadangan sekejung bilukan renglaya
pullanku mak dapok lagi nyegokkon kebatinan sai wat kulupako
sakik hatiku ngedengi tamak ni penguasa rik rakus ni pengusaha
sai nyadangko ham tebiu, rangku ngawil iwa rik langui
pahik rasa ni ngedapokkon kenyataan nyak mak dapok petungga
kantekku sai tanno lebon induh mit dipa

api lagi sai dapok kuingok tentang niku
api lagi sai dapok ngikok nyakku jama niku
api lagi sai dapok nyani nyak nirami niku
api lagi ingokan sai tinggal barong niku
api lagi …
: niku beni rumpok, sunyin ni lain benyak


LIWA
apa lagi yang bisa kubanggakan darimu
gemburnya tanah subur yang dulu kutinggal kini kerontang
way sindalapai, way robok, way setiwang yang mengaliri jiwaku
tak lagi membuat darah semangatku menggelegak
hijaunya bukit, birunya pesagi, lembutnya angin
tak lagi kutemui dalam percumbuan kita kemarin
perih mataku menyaksikan kegersangan sepanjang jalan berliku
hutanku tak mampu lagi menyimpan kekayaan yang pernah aku lupakan
sakit hatiku mendengar keserakahan penguasa dan kerakusan pengusaha
yang merusak ham tubiyu, telaga tempatku memancing ikan dan berenang
pahit rasanya mendapat kenyataan aku tak dapat menjumpai
sahabatku yang kini menghilang entah kemana
apa lagi yang bisa kuingat tentangmu
apa lagi yang bisa mengikatku denganmu
apa lagi yang bisa membuatku merindukanmu
apa lagi kenangan tertinggal bersamamu
apa lagi …
: kau punya orang lain. segalanya bukan untukku (Yordansah, 2009:online).


Puisi Liwa merupakan puisi Lampung modern yang ditulis oleh seorang sastrawan Lampung yang terkenal yaitu Udo Z. Karzi. Penulis akan menganalisis puisi Liwa ini berdasarkan analisis nilai sastra dan nilai manfaat atau nilai praktis. Seperti yang telah dijabarkan di atas bahwa nilai sastra ada beberapa macam.
Pertama adalah nilai hedonik (hedonic value), puisi Liwa ini mempunyai nilai hedonik yang sangat tinggi. Hal ini bisa dilihat dari isi dan bahasanya karena setiap orang yang membacanya akan terkesima dan menimbulkan rasa senang. Kessenangan ini timbul karena keunikan bahasanya. Bahasa Lampung yang notabene hanya digunakan oleh masyarakat Lampung akan terdengar indah didengarkan oleh masyarakat di luar Lampung.
Kedua yaitu nilai artistik (artistic value) atau nilai estetik. Kebesaran suatu karya  menyangkut kriteria ekstra-ertetis. Karya sastra dianggap “besar” jika mengekspresikan nilai-nilai hidup yang  “besar” pula.  Tetapi dalam sebuah karya sastra, sifat-sifat yang menentukan kebesaran sastra harus muncul dalam “situasi nilai yang diwujudkan”. Sebagai suatu nilai yang diwujudkan dan dinikmati. (Rene Wellek dan Austin Warren, 1993:326)
 Nilai kultural (cultural value), yaitu nilai yang dapat memberikan atau me­ngandung
hubungan yang mendalam dengan suatu masya­rakat, peradaban, atau kebuda­yaan. Nilai-nilai budaya merupakan konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga suatu masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang member arah dan orientasi kepada kehidupan para warga masyarakat tadi (Koentjaraningrat, 2002:190).
Nilai etis, moral, agama (ethical, moral, religious value), yaitu
nilai yang da­pat mem­berikan atau memancarkan petuah atau ajaran yang
berkaitan de­ngan etika, moral, atau agama. Dalam puisi Liwa ini nilai etis dan moral sangat dikedepankan. Hal ini bisa ditilik atau dilihat dari isi puisi Liwa sendiri.
Nilai praktis (practical value), yaitu nilai yang mengandung hal-hal praktis yang
dapat diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Nilai praktis ini juga merupakan nilai manfaat dari sebuah karya sastra juga mengandung tujuan dari karya sastra diciptakan, yaitu dulce et utile. Seperti yang telah dijelaskan bahwa sebuah karya sastra pastilah mempunyai nilai yang bisa diambil hikmah atau manfaatnya. Puisi Liwa juga mempunyai nilai yang sangat penting dan berharga dalam kehidupan manusia terutama dan khususnya untuk masyarakat Lampung. Secara artistik, puisi Liwa sangat bagus dan unik. Sajak modern yang dikemas dalam bahasa Ibu yang sungguh luar biasa. Namun tidak hanya itu saja, puisi Liwa mempunyai banyak nilai yang perlu direnungi.
Puisi Liwa ini berisikan tentang sindiran terhadap penguasa dan orang-orang yang rakus dan semena-mena. Hutan-hutan dibabat habis sampai gundul, lalu didirikan gedung-gedung mewah dan pabrik-pabrik sehingga alam yang indah menjadi rusak dan kering kerontang. Hal ini bisa mengakibatkan ketidakseimbangan alam, seperti terjadinya tanah longsor, banjir dan bencana kekeringan. Puisi Liwa berisikan tentang kerinduan seorang penyair kepada alamnya yang dahulu permai dan sekarang menghilang.
Puisi ini bisa dikaitkan dengan keadaan dan fenomena Indonesia pada saat ini. Dahulu Indonesia tercinta ini merupakan negara yang sangat indah dan hijau sehingga dijuluki zamrut katulustiwa. Indonesia dijadikan sasaran para penjajah yang rakus karena merupakan negara yang kaya raya. Indonesia kaya akan sumber alam dan negara yang teramat subur. Ada seorang penyair mengatakan bahwa ranting dan batupun bisa ditumbuhi oleh tetumbuahan, namun semua itu menghilang dan berubah. Indonesia yang dahulu dikenal sebagai negara agraris dan dikenal dengan pertaniannya yang melimpah sekarang tidak lagi bisa menunjukkan identitasnya sebagai negara agraris. Justru Indonesia sekarang ingin mengembangkan diri sebagai negara Industri. Padahal potensi Indonesia itu jauh lebih baik sebagai negara agraris bukan negara Industri karena kemampuan Indonesia belum bisa mencapai tahap sebagai negara Industri seperti Jepang.
Hutan-hutan dibabat tidak karuan, dan didirikan pabrik-pabrik yang mengalir limbah-limbahnya sehingga mencemari sungai lalu ikan-ikan menjadi mati. Pencemaran dan perusakan lingkungan atas nama memajukan Indonesia dengan adanya negara Industri.
Nilai manfaat yang dapat diambil yaitu kita sebagai masyarakat Indonesia wajib melindungi alam kita dari perusakan lingkungan agar lingkungan kita jauh dari bencana seperti tanah longsor banjir dan sebagainya. Dengan menjaga lingkungan maka hidup akan menjadi sehat, aman sentausa dan tentram.

E.     Kesimpulan
Puisi Liwa merupakan salah satu puisi dari kumpulan puisi Mak Dawah Mak Dibingi karya Udo Z. Karzi. Puisi ini merupakan puisi modern yang dikemas menjadi sajak tradisional karena menggunakan bahasa ibu (mother language) atau bahasa Lampung. Puisi yang berjudul Liwa ini mempunyai nilai yang sangat berarti bagi masyarakat Indonesia sebagai negara agraris terutama diperuntukan untuk masyarakat Lampung yang notabene masih tradisional dan bersahabat dengan alam bahkan di sana terdapat banyak trensmigran yang memang bertujuan untuk memperbaiki hidup dengan bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan yang luas.

F.     Saran
Sastra Lampung mempunyai banyak variasi. Sastra Lampung modern yang berbahasakan bahasa ibu sekarang mulai dikembangkan namun masih belum banyak. Kebanyakan sastra Lampung modern sama saja dengan sastra Indonesia, yang mungkin hanya bisa disebut sebagai sastra Indonesia bukan sastra Lampung karena menurut definisi dari sastra Lampung sendiri adalah sastra yang berbahasakan bahasa Lampung. Jadi, sebaiknya mengadakan sastra Lampung modern yang lebih banyak sebagai peningkatan khasanah sastra yang lebih luas.
  
G.    Daftar Pustaka
Arista Serenade. 2011. Unsur dan Nilai Sastra. http://aristhaserenade.blogspot.com/p/unsur-dan-nilai-sastra.html. [Diakses pukul 06.20 WIB, 29 Oktober 2012].
Bani Sudardi. 2010. Sastra Nusantara: Deskripsi Aneka Kekayaan Sastra Nusantara. Surakarta: BPSI Solo.
Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Saliwa. 2011. Mak Dawah Mak Dibingi. http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/08/mak-dawah-mak-dibingi-udo-z-karzi.html. [Diakses pukul 06.00 WIB, 29 Oktober 2012].
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT Gramedia.
Yordansah. 2009. Mak Dawah Mak Dibingi. http://sosbud.kompasiana.com/2009/10/25/mak-dawah-mak-dibingi/. [Diakses pukul 06.15 WIB, 29 Oktober 2012].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar