Jumat, 07 September 2012

Latar Belakang dan Penggunaan KBBI


LATAR BELAKANG PERKAMUSAN INDONESIA
·         Kamus merupakan sumber rujukan dalam memahami makna kata suatu bahasa, karena kamus memuat perbendaharaan kata suatu bahasa.
·         Kata kamus diserap dari bahasa Arab qamus yang berarti ‘lautan’.

Fungsi Kamus Besar
·         Penyusunan kamus merupakan usaha kodifikasi bahasa yang menjadi bagian dari pembakuan bahasa tersebut.
·         Kamus besar adalah kamus yang mencatat kekayaan suatu bahasa sampai pada waktu tertentu, yang disusun dalam bentuk lema atau entri, lengkap dengan nuansa makna-maknanya.
·         Nuansa makna kata diuraikan dalam bentuk definisi, deskripsi, contoh, sinonim, atau parafrasa.

Buku Referensi Lain
·         Referensi lainnya adalah ensiklopedia dan tesaurus.
·         Ensiklopedia memberikan uraian terperinci tentang berbagai cabang ilmu atau bidang ilmu tertentu dalam artikel-artikel terpisah sesuai dengan pengelompokan kategori.
·         Tesaurus merupakan sarana untuk mengalihkan gagasan ke kata atau sebaliknya.
·         Bentuk tesaurus dibedakan menjadi dua, yaitu tesaurus yang disusun secara alfabetis dan yang disusun secara tematis.
·         Tesaurus yang disusun secara alfabetis, di dalam entri dimuat sederet hiponim, sinonim, dan antonim. Kata-kata yang berhiponim (yang maknanya saling bertindihan) dikelompokkan dengan subordinatnya sebagai judul, atau kata-kata yang bersinonim itu dikelompokkan dengan salah satu anggota sinonim itu sebagai judul.
·         Tesaurus yan disusun secara tematis (menurut tema), kosakata dikelompokkan berdasarkan klasifikasi yang telah ditentukan. Untuk memudahkan pencarian kosakata, di dalam tesaurus tematis disediakan indeks.
·         Tesaurus sifatnya monolingual dan lazimnya tidak memuat definisi.

Gagasan di Belakang Kamus Besar Dunia
·         Samuel Johnson, Bapak Leksikografi Inggris, penyusun Dictionary of the English Language (1755), menyatakan bahwa fungsi kamus ialah memelihara kemurnian bahasa.
·         Pendapat yang sama diungkapkan oleh Noah Webster, Bapak Leksikografi Amerika, penyusun An American Dictionary of the English Language (1828).
·         Ideologi bahasa yang normatif bertentangan dengan pendirian yang melandasi kamus-kamus modern, seperti A New English Dictionary on Historical Principles (1934), yang lebih dikenal sebagai kamus Oxford dan Webster’s Third New Internasional Dictionary (1961) yang berusaha mencatat dan menafsirkan pemakaian bahasa secara cermat, tanpa mengemukakan mana yang betul dan mana yang salah.
·         Tradisi perkamusan di negara maju, dimulai dengan kamus baku dan kamus ekabahasa (monolingual); dari kamus sumber itulah diterbitkan kamus-kamus yang lebih terbatas, seperti Shorter Oxford Dictionary, Van Dale Handwoordenboek, dan Petitt Larousse. Berdasarkan kamus-kamus baku tersebut disusunlah kamus-kamus dwibahasa (bilingual).

Perkamusan di Indonesia
·         Sejarah leksikografi dimulai dari daftar kata atau glosarium ke kamus-kamus dwibahasa, kemudian ke kamus-kamus ekabahasa.
·         Karya leksikografi tertua dalam sejarah studi bahasa di Indonesia ialah daftar kata Cina-Melayu pada permulaan abad ke-15, yang berisi 500 lema.
·         Daftar kata Italia-Melayu yang disusun Pigafetta (1522) termasuk karya leksikografi yang awal.
·         Kamus tertua dalam sejarah bahasa Indonesia adalah Spraeck ende wordbook, Inde Malaysche ende Madagaskarsche Talen met vele Arabische ende Turksche Woorden (1603) karangan Frederick de Houtman, dan Vocabularium ofte Woordboek near order vanden Alphabet in’t Duytsch Maleysch ende Maleysche-Duytsch (1623) karangan Casper Wiltens dan Sebastian Danckaerts.
·         Kamus-kamus Melayu itu lebih tua daripada Lexicon Javanum (1841), anonim, yang naskahnya tersimpan di perpustakaan Vatikan, yang dianggap sebagai kamus Jawa tertua, yakni Nederduitsch-Maleisch en Soendasch Woordenboek (1841) oleh A. de Wilde.
·         Daftar kata dan kamus pelopor yang multibahasa atau dwibahasa itu kemudian diikuti oleh pelbagai daftar kata dan kamus lain yang beraneka formatnya.
·         Minat pada bahasa dan perkamusan pada zaman kolonial itu terbatas pada orang asing saja. Kamus yang disusun pun pada umumnya kamus bahasa asing-bahasa di Indonesia atau bahasa di Indonesia-asing. Yang dimaksud bahasa di Indonesia, yaitu bahasa Jawa, Sunda, Melayu, Bali, Makasar, dan lain sebagainya.
·         Kamus Melayu-Jawa yang berjudul Baoesastra Melajoe-Djawa (1916) karangan R. Sasrasoeganda, sebagai kamus dwibahasa pertama yang disusun oleh putra Indonesia.
·         Kamus ekabahasa yang disusun oleh putra Indonesia adalah Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama oleh Raja Ali Haji dari kepulauan Riau.
·         Dipandang dari teknik leksikografi, Kitab Pengetahuan Bahasa itu tidak dapat disebut kamus murni, tetapi boleh dianggap sebagai kamus ensiklopedis untuk pelajar.
·         Baoesastra Djawa (1930) karangan W.J.S. Poerwadarminta, C.S. Hardjasoedarma, dan J.C. Poedjasoedira dapat dianggap sebagai pelopor perkamusan ekabahasa bahasa Jawa.

Kamus Bahasa Asing-Bahasa Indonesia
Perkamusan di Sumatra
·         Penjelajah pertama yang berperan dalam bidang linguistik di Sumatra adalah William Marsden.
·         Kamus Melayu (1812), setebal 589 halaman, yang berjudul A Dictionary of the Malayan Language (disusun dalam dua bagian: Melayu-Inggris dan Inggris-Melayu) dan Tata Bahasa Melayu (1812) yang berjudul A Grammar of the Malayan with an Introduction and Praxis, setebal 227 halaman, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan Prancis serta telah digunakan para sarjana pada masa itu untuk kepentingan penulisan karya mereka.

Kamus Bahasa Aceh
·         Kamus Van Langen yang berjudul Woordenboek der Atjehsche taal (1889) dan Tata Bahasa yang berjudul Handleiding voor de beoefening der Atjehsche taal (1889), kamus-kamus ini ditulis dengan ejaan Arab arkais dan kemudian dikembangkan oleh Snouck Hurgronje, ahli fonologi dan ortografi, dengan ejaan Romawi dan sampai penerbitan berikutnya masih digunakan dengan beberapa modifikasi.
·         Selain dua kamus tersebut ada kamus lain yang terbit, yaitu Kamus Aceh Ringkas Atjehsch Handwoordenboek (1931) oleh Kreemer dan glosarium Belanda-Aceh, Nederlandsch-Atjehsche Woordenlijst (1906) oleh Veltman, buku panduan percakapan Aceh (1903) oleh Westenenk, daftar kata dan buku saku untuk keperluan militer Malay, Achinese, French and English Vocabulary (1882) yang disusun oleh Bikkers, dan Maleisch-Hollandsch-Atjehsche Woordenlijst (1880) oleh Arriens.

Kamus Bahasa Gayo
·         Penelitian bahasa Gayo dirintis oleh Snouck Hurgronje.
·         Banyak ditemukan materi tata bahasa dan leksikografi.
·         Materi-materi itu dikembangkan di Jakarta oleh Hazeu dengan bantuan dua orang Gayo, Njaq Poeteh dan Aman Ratoes.
·         Hasilnya ialah Kamus Gayo-Belanda Gajosch-Nederlandsch Woordenboek met Nederlandsch-Gajosch Reister (1907).

Kamus Bahasa Batak
·         Studi bahasa Batak dimulai oleh H.N. van deer Tuuk.
·         Penggarapan kamus dan tata bahasa dengan bahasa Batak Toba, kemudian Batak Dairi, Batak Angkola, dan Batak Mandailing.
·         Dalam kamus Batak-Belanda Rataksch-Nederduitsch Woordenboek (1861), kata-kata bahasa Batak disusun menurut urutan fonetis abjad Sanskerta.
·         J. Warneck menulis kamus Batak Toba-Jerman, Tobabataksch-Deutsch Worterbuch (1906).
·         Kontribusi yang paling penting terhadap leksikografi Batak dibuat oleh M. Joustra dalam karyanya kamus bahasa Batak Karo-Belanda, Batak Karo-Nederlandsch Woordenboek (1907), ditulis dengan abjad Romawi, dan J.H. Neuman merevisi kamus itu pada  tahun 1951.
·         Setelah itu bermunculan kamus Batak yang lain, seperti Simalooengoen Bataks verklarend woordenboek (1936) yang disusun oleh J. Wismar Saragih.
·         Karya di bidang leksikografi bahasa Batak Mandailing dihasilkan oleh C.A. van Ophuijsen, dan Eggink yang menyusun kamus Batak Ankola-Belanda Ankolaen Mandailing-Bataksch-Nederlandsch Woordenboek (1936).

Kamus Bahasa Melayu dan Minangkabau
·         Van der Toorn menyusun kamus Minangkabau Minangkabausch-Maleisch-Nederlandsch Woorenboek (1891) yang menggunakan tulisan Arab dan Romawi, dan penyusunannya berdasarkan abjad Melayu-Arab.
·         Kamus Minangkabau-Melayu Riau (1935) diterbitkan untuk pengenalan bahasa Minagkabau di sekolah, yang disusun oleh M. Thaib gl. St. Pamoentjak.

Kamus Bahasa Rejang
·         Ada tiga sumber tertulis mengenai bahasa Rejang: glosarium yang disusun oleh Hasselt tahun 1881, daftar kata Maleisch-Redjangsch woordenlijst (1926) oleh Wink.

Kamus Bahasa Nias
·         Kamus terbaik adalah Jerman-Nias Deutsch-Niassisches Worterbuch (1892) dan Nias-Jerman Niassisch-Deutsches Worterbuch (1905) yang disusun oleh Sundermann dan Frickenschmidt yang terbit pada tahun 1892 dan 1905.
·         Kamus Nias-Melayu-Belanda, Niasch-Maleisch- Nederlansch Woordenboek (1887) yang disusun Thomas dan Teylor Weber.

Perkamusan di Jawa
Kamus Bahasa Madura
·         Tahun 1898, Kiliaan menyusun kamus Belanda-Madura, Nederlandsch-Madoereesch Woordenboek, kemudian dengan beberapa penambahan dan perbaikan, dia menerbitkan kamus Madura-Belanda, Madoereesch-Nederlandsch Woordenboek, dalam dua bagian pada tahun 1904 dan 1905.
·         Setelah Kiliaan, Penniga dan Hendriks menulis Kamus Madura-Belanda, Practisch Madurees-Nederlands Woordenboek (1913) dan dicetak kembali pada tahun 1937. Kamus ini menggunakan ejaan Melayu.
·         Pada tahun 1943, Balai Pustaka menerbitkan kamus dasar Jepang-Melayu-Jawa-Sunda-Madura.

Kamus Bahasa Sunda
·         Studi bahasa Sunda dimulai dengan penerbitan kamus yang disusun oleh Jonathan Rigg, seorang tuan tanah Inggris yang tinggal di Djasinga, pada tahun 1862.
·         Kamus tersebut tidak memenuhi kualifikasi masyarakat pada saat itu.
·         H.J. Oosting pada tahun 1879 ditugasi oleh pemerintah untuk membuat buku panduan studi dan pengajaran bahasa Sunda, telah berhasil menerbitkan kamus bahasa Sunda, disusul suplemen yang terdiri atas 200 halaman pada tahun 1882.
·         Pada tahun 1887, Oosting menerbitkan kamus bahasa Belanda-Sunda.
·         Geerdink dan Coolsma melanjutkan perkamusan bahasa Sunda. Geerdink pertama kali menerbitkan kamus besar terdiri atas 400 halaman, dan Coolsma yang didukung oleh van der Tuuk, pada tahun 1884.
·         Lazer membuat senarai kata bahasa Belanda-Sunda tahun 1923 dan bahasa Sunda-Belanda tahun 1931 yang member tambahan berharga untuk kamus susunan Coolsma yang dicetak ulang pada tahun 1930.
·         Setelah perang dunia II, seorang Indonesia yang merupakan staf dari Penerbit Balai Pustaka, yaitu Satjadibrata menyusun kamus bahasa Sunda-Indonesia pada tahun 1944.

Kamus Bahasa Jawa
·         Kamus bahasa Jawa tertua adalah Lexicon Javanum (1706), naskahnya tersimpan di Vatikan, Roma dan pengarangnya tidak diketahui.
·         Ada juga kamus yang disusun oleh Roorda van Eysinga pada tahun 1847.
·         Van der Tuuk menerbitkan Kamus Kawi Jawa yang dibuat oleh Winter.
·         Karya monumental Van der Tuuk, Kamus Kawi-Bali-Belanda diterbitkan di Brandes dan Rinkes tahun 1912.
·         Jansz menghasilkan kamus-kamus untuk keperluan praktis. Pada tahun 1876, ia mengeluarkan kamus praktis Jawa-Belanda, dengan tulisan latin.
·         Kemudian edisi yang kedua ditulis oleh anaknya dengan tulisan Romawi pada tahun 1932.
·         Jansz dengan bantuan H.C. Klinkert pada tahun 1861 menerbitkan kamus bahasa Belanda-Jawa.
·         Pada tahun 1898, Grashuis membuat kamus bahasa Belanda-Jawa yang lebih kecil.
·         Pigeaud menerbitkan kamus Jawa-Belanda dan Belanda-Jawa pada tahun 1938 di Belanda.

Kamus Berbahasa Indonesia
·         Sebagai salah satu hasil proyek Lembaga Penyelidikan Bahasa dan Kebudayaan Universitas Indoesia, pada tahun 1952 terbit Kamus Umum Bahasa Indonesia oleh W.J.S. Poerwadarminta.
·         Kamus ini merupakan tonggak sejarah dalam pertumbukan leksikografi Indonesia.
·         Sifat kamus ini adalah sederhana dan praktis.
·         Kamus ini merupakan kamus deskriptif yang pemuatan lema ataupun penjelasan maknanya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
·         Sebelum tahun 1976 kamus ini sudah mengalami cetakan ke-4 dan pada tahun itu pula terbit cetakan ke-5 setelah diperbaharui jumlah lemanya oleh Bidang Perkamusan dan Peristilahan, Pusat Bahasa.
·         Pada tahun 1974 Pusat Bahasa mengadakan penataran leksikografi dan berhasil menyusun Kamus Bahasa Indonesia yang disusun oleh Sri Sukesi Adiwimarta, kamus ini terbit tahun 1983.
·         Bertepatan dengan Kongres Bahasa Indonesia V pada tanggal 28 Oktober 1988 di Jakarta terbitlah Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai hasil karya suatu tim yang dipimpin oleh Kepala Pusat Bahasa, Anton M. Moeliono dengan pemimpin reaksi Sri Sukesi Adiwimarta dan Adi Sunaryo.
·         Kamus tersebut mendapat sambutan baik namun juga mendapat kecaman yang cukup mendasar.
·         Pusat Bahasa menampung semua reaksi tersebut dan memutuskan untuk segera menerbitkan Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua yang disusun oleh tim perkamusan Pusat Bahasa di bawah pimpinan Kepala Pusat Bahasa, Lukman Ali dengan pemimpin redaksi Harimurti Kridalaksana bersama sekelompok anggota redaksi tim.
·         Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua sudah mengalami pertambahan lema yang cukup banyak.
·         Selama kurun waktu yang cukup lama, kosakata bahasa Indonesia telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Untuk mendokumentasikan kosakata itu terbitlah KBBI Edisi Ketiga dengan memuat sekitar 78.000 lema.
·         Setelah KBBI Edisi Ketiga dan beredar selama tujuh tahun (2001-2008), bahasa Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat dan untuk mengabadikan kosakata itu maka diterbitkanlah KBBI Edisi Keempat dengan penambahan nama lembaga pada judul kamus menjadi Kamus Besar Bahasa Indonesia: Pusat Bahasa Edisi Keempat.
·         KBBI Edisi ketiga berbeda dengan KBBI Edisi Keempat, perbedaannya yaitu:
ü  Penambahan lema dan sublema; semula jumlah lema sekitar 78.000, kini bertambah menjadi sekitar 90.000 lema.
ü  Perbaikan menyangkut ketaatasasan definisi, penjelasan lema, dan penggalan kata.
ü  Perbaikan juga menyangkut informasi teknis, seperti label bidang ilmu, label bahasa daerah, dan informasi yang lain.
ü  Sistematika penyususnan sublema tidak lagi berdasarkan abjad, tetapi berdasarkan paradigm, misalnya lema tinju pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, sublema bertinju diletakkan setelah lema pokok tinju karena mendapat awalan ber- yang berabjad pada urutan teratas, kemudian diikuti sublema meninju-tinju-meninju, pertinjuan, petinju, dan peninju. Namun dengan penyusunan sublema berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia: Pusat Bahasa Edisi Keempat ini urutan sublemanya menjadi meninju, peninju, peninjuan, tinjuan, bertinju, dan petinju.
PETUNJUK PEMAKAIAN KAMUS
Dalam bahasa Indonesia terdapat varian-varian, yaitu varian-varian menurut pemakai yang disebut dialek dan varian menurut pemakaian yang disebut ragam bahasa.
Berdasarkan pemakai bahasa, dibedakan varian berikut.
1.      Dialek regional, yaitu varian bahasa yang dipakai di daerah tertentu.
2.      Dialek sosial, yaitu dialek yang dipakai oleh kelompok tertentu atau yang menandai strata sosial tertentu, misalnya dialek remaja.
3.      Dialek temporal, yaitu dialek yang dipakai pada kurun waktu tertentu, misalnya dialek Melayu zaman Sriwijaya dan dialek Melayu zaman Abdullah.
4.      Idiolek, yaitu keseluruhan cirri bahasa seseorang. Sekalipun berbahasa Indonesia, kita masing-masing mempunyai cirri-ciri khas pribadi dalam lafal, tata bahasa, atau pilihan dan kekayaan kata.
Varian bahasa berdasarkan pemakaian bahasa disebut ragam bahasa. Jumlahnya dalam bahasa Indonesia tidak terbatas. Oleh karena itu, ragam bahasa dibagi atas dasar pokok pembicaraan, media pembicaraan, dan hubungan antarpembicara.
Ragam bahasa menurut pokok pembicaraan dibedakan, antara lain, atas:
a.       Ragam bahasa undang-undang,
b.      Ragam bahasa jurnalistik,
c.       Ragam bahasa ilmiah, dan
d.      Ragam bahsa sastra.

Ragam bahasa menurut media pembicaraan dibedakan atas:
a.       Ragam lisan: ragam bahasa cakapan, ragam bahsa pidato, ragam bahsa kuliah, dan ragam bahasa panggung;
b.      Ragam tulis, antara lain: ragam bahas teknis, ragam bahasa undang-undang, ragam bahsa catatan, dan ragam bahsa surat.

Ragam bahasa menurut hunungan antarpembicara dibedakan berdasarkan akrab tidaknya pembicara. Jadi, ada ragam bahasa resmi, ragam bahasa akrab, ragam bahasa agak resmi, ragam bahasa santai, dan sebagainya.
INFORMASI DALAM KAMUS
Keanekaragaman bahasa sebagai kekayaan bangsa Indonesia itu tercermin dalam kamus, dan disajikan dalam bentuk lema. Setiap lema mempunyai kerangka informasi sebagai berikut.
1.      Lema, yang berupa kata dasar, kata berimbuan, kata ulang, kata majemuk, frasa, akronim menjadi judul tiap lema, dan itulah yang dijelaskan dalam batang tubuh kamus.
2.      Semua lema disusun secara alfabetis.
3.      Tiap-tiap lema ditulis dengan pemenggalan berdasarkan pedoman terperinci yang termuat dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan bagian pemenggalan kata.
Contoh:
     An.dal
     Meng.an.dal.kan
     Ter.an.dal
     An.da.lan
     Ke.an.da.lan
Pada edisi keempat ini digunakan beberapa ketentuan khusus mengenai penggalan, antara lain, yang tertera di bawah ini.
a.       Suku kata yang berupa satu huruf vokal yang terdapat pada awal atau akhir lema pokok. Contoh: amil bukan a.mil, ela.bo.ra.si bukan e.la.bo.ra.si, via bukan vi.a.
b.      Akhiran –i, seperti pada mencabuti, mendarati, mengobati tidak dipenggal dan penulisannya adalah sebagai berikut. Contoh: men.ca.buti bukan men.ca.but.i, men.da.rati bukan men.da.rat.i, meng.o.bati bukan meng.o.bat.i. Hal ini dilakukan agar tidak terdapat satu huruf di awal atau di akhir baris. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku pada sublema yang berawalan atau berakhiran, seperti pada mengarahkan, peredaran. Contoh: meng.a.rah.kan, per.e.dar.an.
c.       Kata-kata yang mengandung satu huruf vokal di tengah, seperti plagiator dan puisi. Pemenggalannya: pla.gi.a.tor dan pu.i.si.
d.      Akhiran yang berasal dari bahasa asing, khususnya –isme yang unsurnya berupa kata mandiri, diperlakukan sebagai akhiran, dan pemenggalannya ko.lo.ni.al.is.me dan se.ku.lar.is.me. Akan tetapi –isme tidak diperlakukan sebagai akhiran apabila unsurnya tidak berupa kata mandiri. Pemenggalannya: anar.kis.me, fa.sis.me, nu.dis.me.
e.       Pemenggalan kata-kata tertentu yang berasal dari bahasa Arab yang mengandung ain atau hamzah yang didahului konsonsn, seperti Alquran,bidah dipenggal seperti lafal aslinya. Contoh: Al.qur.an, bid.ah.
4.      Sesuai dengan konteks dan keperluannya, setiap lema diberi label berikut.
a.       Label ragam bahasa:
ark            arkais, untuk menandai kata yang berlabel itu tidak lazim;
cak            ragam cakapan, untuk menandai kata yang berlabel itu digunakan dalam
 rangka tak baku;
hor            ragam hormat, untuk menandai kata yang berlabel itu digunakan dalam
                 ragam resmi;
kas            kasar, untuk menandai kata yang berlabel itu digunakan dalam ragam yang
                 tidak sopan;
kl              klasik, untuk menandai kata yang berlabel itu digunakan dalam kesastraan
                 Melayu Klasik.
b.      Label kelas kata
a               adjektiva, yaitu kata yang menjelaskan nomina atau pronominal;
adv           adverbial, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbial lain, atau
                 kalimat;
n               nomina, yaitu kata benda;
num          numeralia, kata bilangan;
p               partikel, kelas kata yang meliputi kata depan, kata sambung, kata seru,
                 kata sandang, ucapan salam;
pron          pronominal, kelas kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, dan kata
                 tanya;
v               verba, kata kerja.
c.       Label penggunaan bahasa yang menunjukkan dalam bahasa apa atau dialek Melayu mana kata yang bersangkutan digunakan.
1)      Dialek Melayu
Dialek Melayu jumlahnya sangat banyak, lema yang khas dialek-dialek itu diberi label sesuai dengan daerah asal dialek Melayu tersebut, seperti:
Jk         Melayu Jakarta
Klm      Melayu Kalimantan
Md       Melayu Medan
2)      Bahasa Daerah
Abr      Abrab
Ach      Aceh
Bt         Batak
Dy        Dayak
3)      Bahasa Asing
Singkatan label bahasa asing selain digunakan di dalam entri pada batang tubuh, juga digunakan dalam lampiran ungkapan asing.
Bld       Belanda
Lt         Latin
Rs        Rusia
Jm        Jerman
d.      Label bidang kehidupan dan bidang ilmu menunjukkan dalam bidang apa kata yang bersangkutan digunakan.
Adm          administrasi dan kepegawaian
Ark           arkeologi
Fis            fisika
Zool          zoology
Tas           tasawuf
5.      Petunjuk pelafalan /é/  digunakan untuk membedakannya dari pelafalan /e/.
Contoh: de.ka.de /dékade/
6.      Penjelasan makna dinyatakan melalui batasan makna, uraian penggunaan, atau padanan kata. Apabila sebuah lema mempunyai lebih dari satu makna, perbedaan makna itu ditandai dengan nomor polisem dengan menggunakan angka Arab.
Contoh:
1lan.tai n 1 bagian bawah…; 2 tingkatan pd gedung bertingkat…; 3 geladak perahu
7.      Contoh penggunaan yang disertakan sesudah penjelasan makna dimaksudkan untuk memperjelas makna lema.
Contoh:
     da.tang 1 v tiba di tempat yang dituju: ia – pukul 08.00 pagi; 2 v berasal: mereka – dr desa; dr mana –nya cinta, dr mata turun ke hati
Adakalanya peribahasa digunakan sebagai contoh penggunaan sebuah lema. Makna peribahasa selalu disertakan.
Contoh:
     Le.bah
     Spt --, mulut membawa madu, pantat membawa sengat, pb orang yg menis tutur katanya, tetapi berbahaya (jahat)
8.      Derivasi dan gabungan kata.
Contoh:
     jad.wal
       -acara
       men.jad.wal.kan
  pen.jad.wal.an
  ter.jad.wal
  ber.jad.wal

PENYAJIAN LEMA
1.      Kata Dasar
Kata dasar menjadika dasar segala bentukan kata diperlakukan sebagai lema atau entri, sednagkan bentuk-bentuk derivasinya diperlakukan sebagai sublema atau subentri. Misalnya kata pukul adalah kata dasar dan kata memukul, pukul-memukul, memukuli, memukulkan, adalah bentuk derivasinya.
Cara penyusunannya:
1pu.kul v ketuk (dng sesuatu yg keras atau berat, dipakai juga dl arti kiasan): kena -- , kena ketuk (diketuk); 2 n ki kena rugi (marah, tipu, dsb): salah -- , salah memukul (mengetuk)…
Me.mu.kul v 1 mengenakan suatu benda yg keras atau berat dng kekuatan (untuk mengetuk, memalu, meninju, menokok, menempa, dsb): tiba-tiba ia ~ lenganku; ~ beduk (tabuh, gendang, genderang, tambur, dsb); … 2 ki menyerang; menempuh; mengalahkan; ~ musuh; ~ mundur menyerang hingga musuh mundur; …
Pu.kul-me.mu.kul v saling, memukul, baku pukul: kedua anak itu bertengkar sambil ~;
Me.mu.kuli v memukul berkali-kali; menghajar;
Me.mu.kul.kan v 1 memukul dng: ia ~ kayu itu sampai hancur; 2 memukul untuk orang lain; 3 memperbanyakkan; mengalikan: ~ 25 dng 4;
2.      Peribahasa
Peribahasa diperlakukan secara khusus, dicetak miring, dan ditempatkan setelah penjelasan pada lema atau sublema yang terkandung dalam peribahasa tersebut dan diberi label pb. Jika terdapat lebih dari satu peribahasa, peribahasa itu disusun menurut abjad dengan berpegang teguh pada huruf awal pada kata pertama peribahasa itu.
Contoh:
Be.li.ung n perkakas tukang kayu, rupanya spt kapak dng mata melintang (tidak searah dng tangkainya);bagai -- dng asahan, pb sangat karib (tidak pernah bercerai); bersua -- dng sangkal, pb sesuai benar (krn sepaham dan setujuan); bertemu -- dng ruyung, pb sama-sama kuat (tt permusuhan)
Be.ruk n kera besar yg berekor pendek dan kecil, dapat diajar memetik buah kelapa; Macacus nemestrinus;bagai -- kena ipuh, pb menggeliat-geliat krn kesakitan dsb; berhakim kpd -- , pb minta keadilan (pertimbangan) kpd orang yg rakus; dilengah (dimabuk) -- berayun, pb merasa senang (asyik) akan sesuatu yg tidak ada gunanya
3.      Gabungan Kata
a.       Gabungan kata atau kelompok kata yang merupakan frasa--- idiomatic atau tidak, berafiks atau tidak--- yang tidak berderivasi tidak diperlakukan sebagai lema, tetapi diperlakukan sebagai sublema. Letaknya langsung di bawah lema atau sublema yang berkaitan. Untuk memudahkan pemakai kamus, patokan yang dipakai adalah bentuk kata pertama dengan memperhatikan makna intinya. Unsure pertama gabungan kata itu dicetak dengan tanda hubung ganda (--) apabila berupa kata dasar dan dicetak dengan tilde (~) apabila berupa kata berafiks. Kedua-duanya dicetak tebal.
Contoh:
Ang.kat 1 v naikkan; tinggikan: -- tangan; 2 v ambil; bawa: sudahlah jangan
malu-malu, -- saja; 3 a yg diambil: anak --;
-- berat Olr olahraga yg mempertandingkan adu tenaga atau kekuatan dl mengangkat beban (besi); -- besi Olr olahraga dng mengangkat halter (besi); -- bicara ki mulai bicara (berpidato dsb); -- kaki ki 1 pergi (meninggalkan tempat); 2 melarikan diri; kabur; -- tangan 1 mengangkat kedua belah tangan ke atas spt ketika orang mulai salat; 2 cak mengacungkan tangan ke atas tanda menunjukkan diri: coba siapa yg dapat mengerjakan, -- tangan; 3 cak ki menyerah (tidak akan melawan lagi); takluk; 4 cak ki tidak sanggup menghadapi; putus asa: ia sudah -- tangan kalau disuruh menghadapi orang itu; -- topi ki menaruh hormat; kagum;
Meng.ang.kat v…;
Meng.ang.kat-ang.kat v ki memuji-muji; menyanjung-nyanjung: ia selalu ~ menantunya itu;
Meng.ang.kati v berulang kali mengangkat: kerjanya ~ batu kali;
Meng.ang.kat.kan v 1 mengangkat untuk orang lain: ia ~ kopor saya; 2 mengangkat: ia pun ~ tangannya sambil mengucapkan doa;
Ter.ang.kat 1 v sudah diangkat; 2 v dapat diangkat; 3 n kl usungan atau kereta pembawa jenazah: ~ raja diraja;~ kening lebih kurang pukul 07.30—08.00;
b.      Gabungan kata yang berderivasi – baik idiomatic ataupun tidak – seperti campur aduk (mencampuradukkan, pencampuradukan, bercampur aduk, kecampuradukan) diperlakukan sebagai lema dan diikuti bentuk-bentuk derivasinya sebagai sublema.
Contoh:
      cam.pur a.duk v …;
         men.cam.pur.a.duk.kan v …;
         pen.cam.pur.a.duk.kan n …;
         ber.cam.pur a.duk v …;
         ke.cam.pur.a.duk.an n
4.      Kata Ulang dan Bentuk Ulang
Perlakuan terhadap kata ulang dan bentuk ulang adalah sebagai berikut.
a.       Kata ulang yang menunjukkan makna jamak (yang menyangkut benda), seperti meja-meja,  ilmu-ilmu, tidak dimuat sebagai lema.
b.      Kata ulang berubah bunyi, seperti bolak-balik, pontang-panting diperlakukan sebagai lema pokok dan berdefinisi.
c.       Kata ulang yang menunjukkan jamak dalam hal proses, seperti melihat-lihat, tolong-menolong diperlakukan sebagai sublema dan diletakkan langsung sesudah bentuk kata yang berawalan meng- dan ber-.
Contoh:
      Melihat-lihat diletakkan sesudah melihat
      Tolong-menolong diletakkan sesudah menolong
d.      Bentuk ulang yang seolah-olah merupakan kata ulang, seperti kupu-kupu, kunang-kunang diperlakukan sebagai lema pokok.
e.       Bentuk ulang dwipurwa, seperti dedaunan, sesepuh, diperlakukan sebagai lema pokok dan penulisannya sebagai berikut.
Contoh:
      dedaunan lihat daun
      sesepuh lihat sepuh
5.      Kata yang Berawalan se-
Kata yang berawalan se- dengan makna ‘sama’, seperti seimbang, selaras, sesuai dan setara diperlakukan sebagai lema pokok dan cara penulisannya sebagai berikut.
Contoh:
            seimbang lihat 1imbang
selaras lihat 1laras
sesuai lihat suai
setara lihat 1tara
6.      Lema atau sublema yang merupakan gabungan kata yang deskripsi maknanya terdapat pada lema lain digunakan kata lihat.
Contoh:
            kain kasa lihat 1kasa
            kayu kayan lihat kayan
7.      Bentuk Terikat
a.       Bentuk terikat berupa afiksasi, seperti –an, ber- (be-, bel-), -el- yang selalu diikuti oleh bentuk lain diperlakukan sebagai lema dan cara penulisannya sebagai berikut.
1)      –an sufiks pembentuk nomina…
2)      ber- (be-, bel-) prefix pembentuk verba…
3)      1-el- infiks pembentuk nomina
4)      2-el- infiks pembentuk verba
b.      Bentuk terikat seperti dwi-, panca-, swa-, dan tuna- yang selalu diikuti oleh bentuk lain diperlakukan sebagai lema dan penulisannya sebagai berikut.
Contoh:
      dwibahasa
      pancasila
      swasembada
      tunawicara
8.      Bentuk yang berasal dari bahasa Inggris yang berakhiran –ing dan lazim digunakan, seperti assembling, voting ditempatkan dalam lampiran kata dan ungkapan asing.
9.      Bentuk ungkapan asing, seperti assalamu alaikum, dimuat dalam lampiran kata dan ungkapan asing.
10.  Rumus Kimia
Bentuk rumus kimia ditempatkan di belakang uraian sesudah tanda titik koma.
Contoh:
            en.drin /éndrin/ n Kim 1 cairan yang biasa dipakai sbg racun pembuluh tikus; 2
                        hablur putih berbentuk serbuk tidak melarut di dl air; C12H8OCL6
11.  Istilah Latin
Istilah latin yang dipakai di dalam deskripsi dicetak miring dengan diawali tanda koma (,) jika berkedudukan sebagai keterangan penjelas dan diawali tanda titik koma (;) jika berkedudukan sebagai sinonim.
Contoh:
cen·da·na n 1 pohon yg kayunya keras dan berbau harum; Santalum album; 2 kayu
cendana; -- janggi cendana yg kayunya berwarna merah; Pterocarpus santalina; -- kering 1 cendana yg sudah tidak berbau harum lagi; 2 ki orang yg sudah tidak berguna lagi; -- kuning cendana yg kayunya berwarna kuning, -- semut Exocarpus latifolia

URUTAN SUSUNAN LEMA
Lema disusun menurut abjad, baik secara horizontal ataupun secara vertical. Urutan lema disusun sebagai berikut.
1.      Lema pokok
2.      Gabungan kata dari bentuk dasar
Lema pokok yang berderivasi diurutkan berdasarkan paradigm pembentukan kata sebagai berikut.
3.      Kata ulang
a.       Bentuk dasar
b.      Dwipurwa
4.      Meng-
Meng- …-i
Meng- …-kan
Menge- …-kan
5.      Pe-; peng-
Pe- …-an, peng- …-an
6.       –an
7.      Di-
8.      Ter-
Ter- …-i
Ter- …-kan
Keter- …-an
9.      Ber-
Ber- …-an
Ber- …-kan
Member- …-kan
Pember- …-an
Keber- …-an
10.  Per-
Per- …-kan
Memper-
Memper- …-i
Memper- …-kan
Per- …-an
Teper- …-kan
11.  Se-
Menye- …-i
Menye- …-kan
Penye-
Penye- …-an
Berse-
Berse- …-an
Per- …-an
Kese- …-an
Sepe-
Seper-
Seper- …-an
Se- …-nya
12.  Ke-
Ke- …-an
Urutan di atas merupakan urutan turunan berdasarkan paradigm pemebentukan kata.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar