Selasa, 11 April 2017

Perbandingan Cerita Rakyat Malin Kundang dari Sumatera Barat dan Si Lancang dari Riau Ditinjau dari Sosiologi Sastra



Pengampu: Drs. Wiranta, M. Hum


Penyusun:
Andaria Rhoma R S (C0211006)
Dyah Hutami Wulandari (C0211015)
Muziatul Masitoh (C0211026)
Novitasari Mustaqimatul Haliyah (C0211027)

JURUSAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013

A.    Latar Belakang
Cerita rakyat salah satu bukti kekayaan kesusastraan Indonesia. Di dalamnya mengandung nilai moral yang sangat relevan dengan masyarakat pada waktu itu, dan berkaitan erat dengan sifat kedaerahan yang mereka miliki.
Cerita rakyat merupakan salah satu tradisi sastra lisan. Menurut Sapardi Djoko Damono (dalam Robert Escarpit, 2005: viii), sastra adalah kristalisasi keyakinan nilai-nilai dan norma-norma yang disepakati masyarakat-setidaknya begitulah yang terjadi di masa lampau ketika kepengarangan tidak dimasalahkan dan berbagai jenis tradisi lisan dimiliki beramai-ramai oleh masyarakat, tidak individu.
Pada prinsipnya, sastra bandingan mengutamakan perbandingan dua karya dari negara yang berbeda. Akan tetapi, batasan itu dilonggarkan lagi dalam aliran Amerika sehingga kajian bandingan memiliki ruang yang lebih luas lagi. Oleh karena itu, makalah ini membahas tentang perbandingan cerita rakyat dari satu negara tetapi berbeda daerah.
Makalah ini berjudul “Perbandingan Cerita Rakyat Malin Kundang dari Sumatera Barat dan Si Lancang dari Riau Ditinjau dari Sosiologi Sastra”. Penyusun menemukan adanya kesamaan cerita antara Cerita Rakyat Malin Kundang dan Cerita Rakyat Si Lancang. Meski pun jenis cerita rakyatnya berbeda. Malin Kundang termasuk dalam dongeng, sedangkan Si Lancang merupakan sebuah legenda.
Perbandingan kedua cerita rakyat ini dianalisis dengan menggunakan pendekataan sosiologi sastra. Cerita rakyat merupakan cerita yang berkaitan langsung dengan masyarakat atau rakyat, dan menyangkut pula tentang kehidupan masyarakat itu. Sedangkan pendekatan sosiologi sastra yang paling banyak dilakukan adalah menaruh perhatian yang besar terhadap aspek dokumenter sastra: landasannya adalah gagasan bahwa sastra merupakan cermin zamannya. Pandangan ini beranggapan bahwa sastra merupakan cermin langsung dari pelbagai segi struktur sosial, hubungan kekeluargaan, pertentangan kelas, dan lain-lain. Dalam hal ini, tugas ahli sosiologi sastra adalah menghubungkan pengalaman tokoh-tokoh khayali dan situasi ciptaan pengarang itu dengan keadaan sejarah yang merupakan asal-usulnya (Sapardi Djoko Damono, 1979: 10).



B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.
1.      Apa persamaan dan perbedaan cerita rakyat Malin Kundang dan Si Lancang?
2.      Bagaimana cerminan cerita rakyat Malin Kundang dan Si Lancang terhadap masyarakat di daerah tersebut?
C.    Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah, penyusun memiliki tujuan sebagai berikut.
1.      Mengetahui persamaan dan perbedaan cerita rakyat Malin Kundang dan Si Lancang
2.      Mengetahui cerminan cerita rakyat Malin Kundang dan Si Lancang terhadap masyarakat di daerah Sumatera Barat dan Riau.
D.    Landasan Teori
Sastra bandingan adalah suatu kajian perbandingan dua karya ssastra atau lebih dari dua negara yang berbeda dan dilakukan secara sistematis. Bidang kajian sastra bandingan sebetulnya sudah lama berkembangdi Eropa dan Amerika aliran Prancis dan Amerika merupakan dua madzhab yang sangat berpengaruh dalam kajian ini. Meskipun sama-sama memumpun perhatian pada kajian sastra bandingan. Ada perbedaan yang mendasar pada dua aliran ini. Aliran Perancis, aliran perancis berpandangan bahwa sastra bandinagan adalah kajian perbandingan dua karya sastra atau lebih denga penekananan pada aspek karya sastra itu sendiri. Akan tetapi pengikut aliran Amerika memperluas aspek perbandigan itu ke bidang-bidang lain seperti sastra dengan bidang ilmu dan bidang seni tertentu. Aspek yang bisa dibandingkan antara lain tema, bentuk, aliran serta keterkaitan sastra untuk menjelaskan perkembangan teori sastra dan kritik sastra.
Cerita legenda maupun dongeng merupakan tradisi turun-temurun yang diwariskan oleh nenek moyang kepada generasi selanjutnya. Dongeng Malin Kundang dan Legenda Si Lancang merupakan cerita rakyat yang memiliki kemiripan cerita baik alur maupun temanya. Kedua cerita tersebut berasal dari daerah yang sama yaitu daerah Sumatera.
Pendekatan untuk mengkaji dua cerita rakyat tersebut menggunakan teori sosiologi sastra. Sosiologi sastra merupakan salah satu pendekatan sosiologi sastra yang mendasarkan pada teori marxisme. Menurut Marx dan Engels, dalam masyarakat terdapat dua buah struktur: infrastruktur dan superstruktur. Dalam masyarakat superstruktur memiliki   fungsi esensial untuk melegitimasi kekuatan kelas sosial yang memiliki alat produksi ekonomi, sehingga ide-ide dominan dalam masyarakat adalah ide-ide kelas penguasanya. Sosiologi sastra merupakan pendekatan yang bertitik tolak dengan orientasi kepada pengarang.Sosiologi sastra merupakan bagian mutlak dari kritik sastra, ia mengkhususkan diri dalam menelaah sastra dengan memperhatikan segi-segi sosial kemasyarakatan. Produk ketelaahan itu dengan sendirinya dapat digolongkan ke dalam produk kritik sastra (dikutip dari kompasiana.com/2012/08/13/)
E.     Analisis
Cerita Rakyat Malin Kundang termasuk jenis dongeng, karena cerita Malin Kundang memunculkan unsur fantasi yang berfungsi sebagai hiburan dan pendidikan moral. Sedangkan, cerita rakyat Si Lancang merupakan sebuah legenda karena berhubungan dengan tempat.
Tema dari kedua cerita itu adalah akibat durhaka kepada orang tua, terutama pada ibu. Amanat dari kedua cerita rakyat tersebut adalah sebagai anak kita tidak boleh durhaka kepada orang tua, apalagi sampai tidak mengakui orang tuanya sendiri. Demikian juga sebaliknya, sebagai orang tua terutama ibu, tidak boleh berkata asal kepada anaknya, karena perkataan ibu adalah doa yang mujarab.
Persamaan dan perbedaan cerita rakyat Malin Kundang dan Si Lancang dapat dilihat dalam sekuen di bawah ini.
Sekuen Cerita Rakyat Malin Kundang
1.         Ada janda, bernama Mande Rubayah
1.1       Ia tinggal di sumatera barat, perkampungan air manis
1.2       Mande Rubayah mempunyai anak laki-laki bernama Malin kundang
1.3       Malin sangat disayang ibunya, sejak kecil sudah ditinggal mati ayahnya
2.         Malin dan Ibunya tinggal diperkampungan nelayan
2.1       Malin jatuh sakit
2.2       Mande Rubayah bingung
2.3       Mande Rubayah mendatangkan tabib untuk mendatangkan Malin
3.         Nyawa malin berhasil diselamatkan
3.1       Mande Rubayah semakin menyayangi Amalin dan juga sebaliknya
4.         Ketika dewasa, Malin pamit kepada ibunya untuk merantau
4.1       Ada kapal besar merapat di pantai air manis
4.2       Malin ikut bersama kapal itu
4.3       Mande Rubayah dengan berat hati mengizinkan Malin pergi
4.4       Malin dibekali dengan nasi terbungkus daun pisang
5.         Mande Rubayah selalu menantikan kedatangan Malin
5.1       Mande Rubayah senantiasa berdoa pada Tuhan agar anaknya selamat dalam pelayaran
5.2       Jika ada kapal yang datang, selalu menanyakan kabar tentang anaknya
5.3       Tapi, tidak ada yang memberikan jawaban tentang Malin
6.         Suatu hari pada sebuah kapal indah berlayar menuju pantai
6.1       Orang kampung mengira kapal itu milik seorang sultan atau pangeran
6.2       Ketika kapal mulai merapat, tampak sepasang muda mudi berdiri di anjungan
6.3       Mereka nampak bahagia, disambut dengan meriah
7.         Mande Rubayah ikut meihat dan mendekati kapal
7.1       Mande Rubayah yakin sekali bahwa lelaki muda itu adalah Malin Kundang
7.2       Mande Rubayah, langsung memeluk malin erat-erat
7.3       Mande Rubayah sangat gembira melihat malin kembali
7.4       Malin terpana karena dipeluk wanita tua dan berpakaian compang-camping
7.5       Malin hanya ingat ibunya seorang wanita berbadan tegar yang kuat menggendongnya kemana saja.
8.         Istri Malin meludahi Mande Rubayah
8.1       Istri Malin merasa dibohongi
8.2       Mendengar kata-kata istrinya, Malin Kundang mendorong wanita itu hingga terguling ke pasir
8.3       Mande Rubayah tidak percaya akan perlakuan anaknya
9.         Malin Kundang malu mengakui ibunya di hadapan sang istri
9.1       saat ibunya hendak memeluk kaki Malin, ia menendangnya
9.2       Mande Rubayah terkapar di pasir dan pingsan
10.       Saat Mande Rubayah sadar pantai air manis sudah sepi
10.1     Kapal Malin semakin jauh
10.2     Mande Rubayah berdoa kepada Tuhan, memohon keadilan
11.       Cuaca yang tadinya cerah berubah menjadi gelap
11.1     Datanglah badai besar yang menghandam kapal Malin Kundang
11.2     Seketika kapal itu hancur berkeping-keping, kemudian terhempas hingga ke pantai
12.       Pagi hari badai telah reda
12.1     Di kaki bukit terlihat kepingan kapal yang telah menjadi batu, itulah kapal Malin Kundang
12.2     Tampak pula, sebongkah batu menyerupai tubuh manusia, itulah tubuh Malin Kundang, anak durhaka yang terkena kutuk ibunya menjadi batu
12.3     Tubuh istri Malin Kundang menjadi ikan teri, ikan belanak, dan ikan tengiri. Itu merupakan serpihan tubuhnya.
Sekuen Cerita Rakyat Si Lancang
1.         Seorang janda yang hidup bersama dengan seorang putranya bernama si Lancang.
1.1.      Tempat tinggal mereka didaerah Kampar.
1.2.      Sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dan berkehidupan miskin.
2.         Si Lancang meminta ijin merantau ke negeri orang untuk bekerja
2.1.      Si Lancang berhasil menjadi seorang yang kaya dan memiliki banyak kapal.
2.2.      Namun, ia tak lagi ingat terhadap Ibunya yang masih hidup miskin.
3.         Suatu hari si Lancang singgah di Kampar
1.1.      Ibunya sangat sukacita karena mengira kepulangan si Lancang untu menemui dirinya
1.2.      Ibunya langsung menghampiri si Lancang yang sedang bersama dengan ketujuh isterinya.
4.         Si Lancang merasa malu melihat Ibunya berpakaian compang camping dan menghampiri dirinya.
4.1.      Saat sang Ibu menyapa si Lancang langsung menghardiknya dengan kasar.
4.2.      Si Lancang menyuruh anak buah untuk mengusir Ibunya.
5.         Ibu si Lancang sangat terluka dengan perlakuan anaknya.
5.1.      Sang Ibu kembali pulang ke rumah dengan mengambil lesung penumbuk padi dan sebuah nyiru.
5.2.      Sambil memutar lesung dan mengkibas-kibaska nyiur sang Ibu berdoa kepada Tuahn agar mengutuk anaknya yang durhaka tersebut.
6.         Tuhan mengabulkan doa Ibu si Lancang
6.1.      Dalam sekejap turunlah badai meluluhlantakkan kapal-kapal si Lancang
6.2.      Kain sutra melayang menjadi negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri.
6.3.      Gongnya menjadi sungai Ogong di Kampar Kanan.
6.4.      Tembikarnya menjadi Paasubilah.
6.5.      Tiang bendera kapal si Lancang terlempar sampai ke sebuah danau yang kemudian diberi nama Danau si Lancang.

Cerita lisan dalam masyarakat akan sangat dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat dimana ceritya tersebut berkembang. Baik cerita Malin Kundang dan si Lancang menggambil setting kehidupan pesisir daerah Sumatera. Penduduk yang bertempat tinggal di wilayah pesisir dan kepulauan pada umumnya adalah nelayan, mereka menggantungkan kehidupan ekonomi rumah tangganya dari hasil-hasil kelautan dan sumber-sumber daya lain (local economic resources) yang terdapat di wilayah pesisir. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi kelauatan dan wilayah pantai/pesisir Sumbar belum mampu didayagunakan sepenuhnya, baru sekitar 30 persen yang berkembang sebagai kegiatan ekonomi masyarakat lokal, tetapi belum efektif sebagai sumber pendapatan untuk kesejahteraan sosial-ekonomi yang berkelanjutan. Hal inilah yang menyebabkan kondisi social-ekonomi nelayan dan masyarakat penduduk wilayah pesisir tidak stabil dan jauh tertinggal jika dibanding kan dengan saudaranya yang tinggal di perkotaan atau di wilayah daratan. Persoalan tersebut tentu bermuara pada masalah relative rendahnya kualitas SDM nelayan disatu sisi, karena pada umumnya mereka memiliki tingkat pendidikan yang rata-rata tamatan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah. Disisi lain system tatakelola usaha yang belum mendukung sepenuhnya peningkatan sosial ekonomi nelayan karena masih dilakukan secara partial. Maka dari uraian tersebut dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Malin kundang dan Lancang pergi merantau untuk memperbaiki kehidupan.
F.     Kesimpulan
Cerita Rakyat Malin Kundang dan Si Lancang mempunyai persamaan yang dekat. Hal ini ditinjau juga dari kedekatan lokasi antara Sumatera Barat dan Riau. Cerita Rakyat itu merupakan sastra lisan termasuk di dalamnya cerita Malin Kundang dan Si Lancang.
Kehidupan masyarakat dalam kedua cerita ini adalah cerminan masyarakat Sumatera secara umum. Masyarakat Sumatera terutama daerah pesisir sangat mengantungkan kehidupan terhadap sumber daya alam. Hal tersebut yang melatarbelakangi terbentuknya kedua cerita ini yang lebih mencenderungkan keadaan ekonomi masyarakat bawah.


G.    Daftar Pustaka
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Antologi Esai Sastra Bandingan dalam Sastra Indonesia Modern. Jakarta: Obor Indonesia.
Escarpit, Robert. 2005. Sosiologi Sastra. Jakarta: Obor Indonesia.
Sapardi Djoko Damono. 1979. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Yudhistira Ikranegara.___. Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara: Dongeng-Legenda-Fabel-Mitos-Epos. Surakarta: Dua Media.
http//.www.edukasi.kompasiana.com. diakses pada hari selasa tanggal 01-10-2013 pukul 14.43

Tidak ada komentar:

Posting Komentar