Kamis, 23 Mei 2013

ANALISIS SASTRA MISTIK INDIA “DI LUAR KEPUTUSASAAN” KARYA RABINDRANATH TAGORE



Disusun untuk Memenuhi Tugas Kuliah Sastra Mistik

Oleh:
Novitasari Mustaqimatul Haliyah
NIM. C0211027

JURUSAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013
A.    Latar Belakang
Dewasa ini banyak karya sastra bermunculan, mulai dari sajak, puisi, bahkan novel. Sajak, puisi, dan novel bertemakan cinta dan islami sangatlah banyak, tetapi sajak, puisi atau novel yang bersifat mistik atau mistisisme sangat jarang ditemui.
Menurut Rudolf Otto (dalam Y.A. Surahardjo,1983:5), mistisisme adalah usaha mendapatkan yang tidak terbatas di dalam keterbatasan. Mistisisme merupakan upaya untuk mengungkap sesuatu yang dianggap mistik atau misteri, dan menekankan segala usaha demi pembebasan.
Puisi “Di Luar Keputusasaan” karya penyair dan sastrawan India, Rabindranath Tagore ini merupakan salah satu karya sastra yang mistis dan sangat menarik untuk dibahas. Ditambah lagi, penyair dan sastrawan India ini tidak dikenal, padahal banyak karyanya yang mencuat bahkan pada tahun 1913, ia mendapatkan Nobel Prize for Literature (Nobel Sastra).
Karya-karya mistisnya yang berkaitan dengan kedekatan terhadap Tuhan patut untuk diapresiasi dan diteliti lebih lanjut. Karya-karya Tagore seperti “Di Luar Keputusasaan” masih berbau Hindu-Budha. Selama ini belum banyak orang yang meneliti karya sastra mistik yang berbau India, Hindu-Budha.
Penulis akan menganalisis karya sastra Rabindranath Tagore “Di Luar Keputusasaan” ini dengan konsep mistisisme. Dalam hal ini penulis mencoba menguraikan makna yang terkandung dalam puisi tersebut berdasarkan konsep fana dan baqa dalam tasawuf meskipun karya tersebut beraliran Hindu-Budha.
B.     Pembahasan
Ma’rifah adalah tingkatan melihat Tuhan dengan mata yang ada dalam hati sanubari. Dalam tingkatan ini, seseorang akan sangat dekat dengan Tuhan, sehingga akhirnya bersatu dengan Tuhan yang sering disebut dengan ittihad. Tetapi sebelum seseorang dapat bersatu dengan Tuhan, ia harus terlebih dahulu menghancurkan dirinya. Selama ia belum dapat menghancurkan dirinya, yaitu selama ia masih sadar akan dirinya, ia tidak akan dapat bersatu dengan Tuhan. Penghancuran diri ini disebut dengan fana’.
Penghancuran dalam istilah sufi ini senantiasa diiringi oleh baqa (tetap, terus hidup). Fana dan baqa merupakan kembar dua. Jika seseorang dapat menghilangkan maksiatnya, yang akan tinggal ialah taqwanya. Fana yang dicari ialah penghancuran diri yaitu al fana ‘an al-nafs, yaitu hancurnya perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh kasar manusia.
Jika seseorang telah sampai pada al fana ‘an al-nafs ketika itu pula dapat bersatu dengan Tuhan. Abu Jazid al-Bustamilah yang dipandang sebagai sufi pertama yang menimbulkan fana dan baqa berkata:
“Aku tahu Tuhan melalui diriku, hingga aku hancur, kemudian aku tahu padaNya melalui diriNya, maka akupun hidup.
Ia membuat aku gila pada diriku sehingga aku mati; kemudian ia membuat aku gila padaNya, dan akupun hidup…………..aku berkata: Gila pada diriku adalah kehancuran dan gila padaMu adalah kelanjutan hidup.”
Dalam puisi Rabindranath Tagore yang berjudul “Di Luar Keputusasaan” menggambarkan fana dan baqa yang sama halnya konsep fana dan baqa sufi tersebut. Di bawah ini puisi Rabindranath Tagore:
DI LUAR KEPUTUSASAAN
Dalam harap yang menyekap, aku pergi dan mencari dia di seluruh sudut ruangan; tak kutemukan dia di sana.
Rumahku kecil, dan apa yang pernah pergi tidak akan kembali.
Tetapi istana-Mu tanpa batas, Tuhan; dan ketika mencari dia, aku telah sampai di pintu-Mu.
Aku berdiri di bawah tirai langit malam-Mu, dan aku buka mataku yang riang menatap wajah-Mu.
Aku telah sampai pada kedipan keabadian tempat tak satu pun dapat menghilang tiada harap, tiada kebahagiaan, tiada wajah yang bersimbah air mata.
Oh, kosongkan hidupku yang hampa ke dalam lautan itu, damparkan ia ke kepenuhan yang terdalam. Biarkan aku, sekali saja, merasakan sentuhan manis yang hilang dalam keseluruhan semesta (Rabindranath Tagore, 2002:29).
Puisi yang ditulis oleh Rabindranath Tagore tersebut merupakan sebuah puisi mistis India. Rabindranath Tagore mencoba mengungkapkan isi hatinya melalui doa-doa yang ia lantunkan berupa bait-bait puisi mistis. Hati sanubarinya selalu mencari keberadaan Tuhan karena ia memang sangat membutuhkan Tuhan.
“Dalam harap yang menyekap, aku pergi dan mencari dia di seluruh sudut ruangan; tak kutemukan dia di sana”
Bait tersebut menggambarkan seseorang yang berharap dan sangat berharap menemukan “dia”. “Dia” di sini bukanlah hanya sebentuk manusia, tetapi lebih luas dari itu, yaitu bentuk penghambaan manusia yang mencari sebuah kelekatan atau hubungan dengan Tuhan.
“Rumahku kecil, dan apa yang pernah pergi tidak akan kembali.”
Bait tersebut menggambarkan seorang hamba yang sadar akan dirinya kecil. Kata “Rumahku kecil” merupakan perwakilan pernyataan bahwa diri seorang hamba lebih kecil dari sebuah rumah. Kemudian dilanjutkan “…dan apa yang pernah pergi tidak akan kembali.” Potongan bait tersebut mengisahkan bahwa sesuatu yang telah pergi atau diambil kembali oleh Tuhan tidak akan kembali. Seperti roh yang terlepas dari raganya, tidak akan pernah kembali pada raga itu. Hal ini merupakan fana, fana adalah sesuatu yang hilang dan tidak akan kembali. Hal ini mulai mengarah pada pertemuan dengan Tuhan dan menuju pada tahap baqa, seperti pada bait selanjutnya.
“Tetapi istana-Mu tanpa batas, Tuhan; dan ketika mencari dia, aku telah sampai di pintu-Mu.”
Istana Tuhan tidak terbatas. Bait tersebut mengungkapkan bahwa Tuhan memiliki tahta atau istana yang tidak terbatas luasnya, berbeda dengan diri makhluk yang hanya mempunyai istana sekecil rumah dan itu sangat terbatas. Istana Tuhan meliputi langit dan bumi beserta isinya. Kemudian dalam bait itu “…dan ketika mencari dia, aku telah sampai di pintu-Mu.” Makna dari potongan bait tersebut berkaitan dengan baqa, yaitu tahta keabadian.
“Aku berdiri di bawah tirai langit malam-Mu, dan aku buka mataku yang riang menatap wajah-Mu”
Makna dari puisi atau bait tersebut adalah seseorang atau makhluk atau manusia yang menyibak tirai Tuhan. Makhluk atau manusia itu mencoba mengenali Tuhan dan bersama dengan Tuhan, menatap dan mengetahui semua tentang Tuhan bahkan sifat-sifat Tuhan seperti dalam ma’rifah sufi.
“Aku telah sampai pada kedipan keabadian tempat tak satu pun dapat menghilang tiada harap, tiada kebahagiaan, tiada wajah yang bersimbah air mata.”
Makhluk itu telah sampai di tahta Tuhan, di tempat Tuhan berada dan kembali pada Tuhan mencapai keabadian atau dalam hal sufi disebut dengan istilah baqa. Makhluk atau manusia itu sudah tidak mengharapkan apapun yang ada di dunia, baik harta, tahta atau wanita. Ia hanya mengharapkan keabadian bersama dengan Tuhan.
“Oh, kosongkan hidupku yang hampa ke dalam lautan itu, damparkan ia ke kepenuhan yang terdalam. Biarkan aku, sekali saja, merasakan sentuhan manis yang hilang dalam keseluruhan semesta.”
Bait ini sudah mulai pada tataran yang lebih tinggi setelah fana dan baqa, yaitu tataran al fana al an-nufs. Tataran penyatuan dengan Tuhan yang abadi dan merasakan segala bentuk yang indah atau manis.
C.    Kesimpulan
Puisi “Di Luar Keputusasaan” karya Rabindranath Tagore merupakan puisi mistis India yang beraliran Hindu-Budha. Puisi itu menggambarkan tentang fana dan baqa dalam sufisme atau sastra sufi. Bait-bait yang disampaikan dalam puisi tersebut merupakan gambaran hati nurani dari Rabindranath Tagore akan keinginan berdekatan dengan Tuhan dan mengetahui semua tentang Tuhan, maka ia menuju pada keabadian atau baqa, yang kemudian menyatu atau menghilang dalam tahta Tuhan atau kerajaan Tuhan.
D.    Daftar Pustaka
Tagore, Rabindranath. 2002. The Heart of God: Menyingkap Kalbu Ilahi. Yogyakarta: Penerbit Jendela.
Y. A. Surahardjo. 1983. Mistisisme. Jakarta: Pradnya Paramita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar