Minggu, 12 Agustus 2012

FILM THE GODS MUST BE HUNGRY



RELEVANSI DALAM PERJALANAN BUDAYA LOKAL DI INDONESIA

Disusun sebagai UK-1 Mata Kuliah Sejarah Kebudayaan Indonesia

Oleh:
Novitasari Mustaqimatul Haliyah
NIM. C0211027

JURUSAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011
BAB I
RELEVANSI FILM “THE GOD MUST BE HUNGRY” DALAM PERJALANAN BUDAYA LOKAL DI INDONESIA

1.1    Makna Sesaji
Kata sesaji sering terdengar dan dipakai di sekitar masyarakat Indonesia. Namun, kita seringkali tidak tahu makna sesaji.  Sesaji merupakan pemberian sajian-sajian seperti yang tertera dalam http://sosbud.kompasiana.com/(2011: online) sebagai berikut.
Sesaji mengandung arti pemberian sesajian-sesajian sebagai tanda penghormatan atau rasa syukur terhadap semua yang terjadi dimasyarakat sesuai bisikan ghaib yang berasal dari paranormal atau tetuah-tetuah. Sesajen merupakan warisan budaya Hindu dan Budha yang biasa dilakukan untuk memuja para dewa, roh tertentu atau penunggu tempat (pohon, batu, persimpangan) dan lain-lain yang mereka yakini dapat mendatangkan keberuntungan dan menolak kesialan.

1.2    Peran Sesaji dalam Masyarakat Lokal Indonesia
Tao dan multi agama di Singapura erat kaitannya dengan sesaji. Penganut Tao dan multi agama di Singapura mengadakan penyembahan terhadap roh-roh nenek moyang mereka. Mereka juga menyembah pada dewa untuk keselamatan mereka. Penyembahan itu bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan menggunakan sesaji.
Di Indonesia juga masih ada penyembahan semacam itu. Penyembahan dengan sesaji maupun penyembahan terhadap banyak dewa sesuai dengan keperluan masing-masing.
Di Bali yang kental dengan kebudayaan Hindu terdapat banyak sekali pura. Pura-pura itu sebagai tempat memuja Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) sebagai Tri Murti. Tri Murti ada tiga kekuasaan Tuhan, yaitu Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara, dan Syiwa sebagai pelebur. Masing-masing dari Tri Murti ini harus mendapatkan sesaji.
Di Bali ada juga pura yang bersifat fungsional yaitu pura yang para pendukung atau pemujanya mempunyai suatu kepentingan yang sama dalam hal-hal tertentu. Salah satu yang tergolong pura ini adalah Pura Subak. Subak adalah organisasi tradisional tentang sistem irigasi pertanian di Bali. mereka mempunyai kepentingan yang sama dalam mendapatkan air sawah mereka. Di pura ini yang dipuja adalah Wisnu yang diyakini menganugerahkan kesuburan pada sawah mereka (Pande Nyoman Djero Pramana, 2004:41).
I Made Laken dalam (Pande Nyoman Djero Pramana, 2004:48) mempunyai pendapat bahwa
Pada zaman dahulu sasih kelima atau keenam sering terjadi gerubug yaitu berjangkitnya suatu wabah penyakit seperti cacar dan kolera yang mengakibatkan banyak orang sakit dan meninggal dunia. Antara bulan-bulan tersebut juga sering terjadi penyakit busung lapar. Gagalnya hasil pertanian karena terserang hama dan musim kemarau yang panjang mengakibatkan makanan sulit didapat. Masyarakat percaya bahwa semua bencana tersebut disebabkan oleh ane sing ngenah (yang tidak kelihatan) sedang murka atau marah. Bagi masyarakat Desa Bungkulan hal ini suatu pertanda bahwa tiba saatnya mengadakan upacara atau nuntun Sang Hyang Jaran.
Prosesi upacara sebelum pelaksanaan Tari Sang Hyang Jaran ada yang namanya mepiuning. Seperti biasa ada beberapa sesajen seperti canang raka, canang sari, dan tirta (air suci). Mantra-mantra dan doa diucapkan serta diiringi tembang pujian, sesajen dihaturkan oleh pemimpin upacara.
I Made Suenten yang merupakan selir (penari Sang Hyang Jaran) yang saat upacara ikut nembang, tiba-tiba menangis seperti orang kerawuhan. Peristiwa ini berkesan seakan-akan ada komunikasi antara selir dengan yang dipuja (Pande Nyoman Djero Pramana, 2004:51).
Bali memang sangat terkenal dengan kebudayaan Hindunya, tetapi wilayah Tengger juga tidak kalah dengan kebudayaan Hindu yang ada di Bali. Menurut Simanhadi dalam (Abdullah Masmuh, dkk., 2003:97), secara umum masyarakat Tengger dikenal dengan masyarakat yang menganut kepercayaan Hindu yang sangat kuat.
Animisme dan dinamisme tumbuh dan berkembang di masyarakat Tengger. Selain itu, keberagaman kebudayaan masyarakat Tengger juga sangat banyak, hal ini tercermin dalam kegiatan-kegiatan upacara adat.
M. Malik Thoha dalam (Abdullah Masmuh, dkk., 2003:98), keberagaman ritualisme budaya dan kepercayaan masyarakat Tengger terlihat dalam beberapa upacara, antara lain upacara Kasada, upacara Hari Raya Karo, Entas-Entas, upacara Pujan Mubeng, upacara Sesayut, upacara Praswala Gara, dan lain-lain.
Sesajen dalam hal ini digunakan pada saat upacara Pujan Mubeng dan upacara Sesayut. Upacara Pujan Mubeng bertujuan untuk memohon keselamatan dusun dengan sesajen, berupa juadah putih, juadah merah, juadah kuning, juadah hitam. Upacara Sesayut dilakukan pada waktu ibu sedang mengandung tujuh bulan. Makanan yang digunakan untuk sesajen berupa jenang abang dan jenang putih (Abdullah Masmuh, dkk., 2003:119).
Sesajen pada upacara Karo sebagai banten dinamakan Kayopan Agung yang terdiri dari 3 nyiru atau tampah berisi 9 buah tumpeng kecil beserta lauk-pauk: sate isi perut hewan, sayur kara, juadah ketan putih dan ketan hitam, conthong berisi apem, pisang, seikat pisang gubahan, daun sirih, kapur dan sepotong pinang (jambe ayu). Perangkat upacara lain adalah sedekah Praskayopan, yaitu sedekah yang terdiri dari setumpuk daun sirih (suruh agung) dan takir berisi pinang dan bunga. Disamping itu ditaruh pula srembu, sebuah pincuk kecil berisi umbi, talas dan kacang yang direbus dan diberi kelapa parut. Di atas Praskayopan diletakkan beberapa helai kain (http://www.parisada.org, 2011:online).
DARTAR PUSTAKA
Pramana, Pande Nyoman Djero. 2004. Sang Hyang Jaran. Surakarta:
          Citra Etnika.
Masmuh, Abdullah, et al. 2003. Agama Tradisional. Yogyakarta: Lkis.
Sawunggalih, Mustafid. 2010. Makna Sesajen.
Anonim. 2011. Kepercayaan Jawa Terhadap Alam.
Widyaprakosa, Simanhadi. 2006.  Mengenal Masyarakat Tengger (2).      http:// www.parisada.org. [4 Oktober 2011] 









Tidak ada komentar:

Posting Komentar