Minggu, 05 Agustus 2012

ANALISIS OBJEKTIF DAN KENYATAAN ARTISTIK ANTARA CERPEN “TUMBAL SURAMADU” KARYA MUNA MASYARI DENGAN ARTIKEL “TUMBAL JEMBATAN SURAMADU” KARYA ANDANG SUBAHARIANTO



A.    Pendahuluan
1.      Mengapa Mengambil Artikel “Tumbal Jembatan Suramadu” dan Cerpen “Tumbal Suramadu?
Media pengungkapan sastra adalah dengan menggunakan bahasa. Pada hakikatnya sastra tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Karya sastra dengan menggunakan media bahasa mampu mengungkapkan atau melukiskan kehidupan realitas masyarakat dalam suatu daerah tertentu. Biasanya menyangkut kehidupan sosial masyarakat penghuninya.
Cerpen merupakan salah satu karya sastra yang juga bermediakan bahasa. Lewat cerpen inilah seorang penulis mampu menggambarkan atau melukiskan kehidupan realitas masyarakat di suatu daerah berdasarkan kehidupan sosial masyarakat di daerah tersebut. Karya sastra dan realitas yang ada dalam suatu masyarakat tertentu saling mempengaruhi dan saling memberikan arahan. Terkadang realitas yang terjadi di dalam suatu masyarakat tertentu bisa menjadi acuan ataupun inspirasi dalam menciptakan sebuah karya sastra, dalam hal ini berupa cerpen. Karya sastra yang berupa cerpen selain terinspirasi dari sebuah realitas masyarakat tertentu bisa menjadi sarana untuk menyampaikan kritik sosial, kritik terhadap pemerintah atau ungkapan perasaan penulis mengenai peristiwa yang terjadi di masyarakat.
Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan diungkapkan persoalan realitas yang terkandung dalam cerpen Tumbal Suramadu karya Muna Masyari terkait dengan artikel Tumbal Jembatan Suramadu karya Andang Subaharianto. Tidak hanya persoalan realitas atau objektivitas yang akan dibahas dalam tulisan ini, tetapi juga keartistikan yang terkandung dalam cerpen maupun artikel tersebut.
Cerpen Tumbal Suramadu dipilih karena cerpen ini bukan sembarang cerpen. Cerpen ini telah dimuat di koran harian Jawa Pos, pada tanggal 19 Februari 2012. Sebuah cerpen yang dimuat di Jawa Pos harus melalui seleksi yang ketat. Maka kesimpulan penyusun, cerpen ini merupakan cerpen yang bagus menurut Jawa Pos.
Artikel Tumbal Jembatan Suramadu karya Andang Subaharianto dipilih karena Andang Subaharianto merupakan staf pengajar Fakultas Sastra Universitas Jember yang tulisannya tidak perlu diragukan lagi. Sudah pasti sebagai staf pengajar Fakultas Sastra kemampuan menulisnya bagus dan beliau pasti juga sudah mempunyai pengalaman menulis yang tidak sedikit.
Cerpen dan artikel disebut dipilih karena mempunyai judul dan cerita yang sama dan saling berkaitan.

2.      Cerpen Tumbal Suramadu terhadap Artikel Tumbal Jembatan Suramadu
Karya sastra merupakan dunia fiktif atau imajinatif. Akan tetapi, karya sastra juga merupakan rekaman segala  aspek kehidupan yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu, karya sastra merupakan potret atau gambaran yang dilebur dengan daya imajinasi pengarangnya dan apa yang terkandung dalam karya sastra sangatlah kompleks. Kekompleksan ini tentunya mencangkup segala lini kehidupan, seperti persoalan budaya, religi, pemikiran, politik, permasalah sosial lain. Bahan utama karya sastra berasal dari aspek sosial atau realita masyarakat tertentu yang ditemukan pada kehidupan sehari-hari.
Cerpen Tumbal Suramadu menggambarkan atau mengungkapkan peristiwa yang bersangkutan tentang kenyataan dalam artikel Tumbal Jembatan Suramadu karya Andang Subaharianto. Cerpen Tumbal Suramadu karya Muna Masyari yang terbit di Jawa Pos ini terinspirasi dari kenyataan pada saat pembangunan jembatan suramadu. Artikel dari Andang Subaharianto merupakan hal yang nyata yang mungkin digunakan sebagai reverensi penulisan cerpen oleh Muna Masyari. Kesamaan cerita ada pada kedua jenis tulisan tersebut. Hal ini akan dibahas pada analisi dibahasan berikutnya.







B.     Teks Artikel Tumbal Jembatan Suramadu Karya Andang Subaharianto
MASYARAKAT di sekitar Surabaya dan Madura beberapa hari belakangan ini dilanda isu penculikan anak-anak kecil untuk dijadikan tumbal Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura). Konon, jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura itu memerlukan tumbal berupa 1.000 kepala bocah.
Tentu saja isu tersebut membuat masyarakat resah. Tak ada orangtua rela kepala anaknya dijadikan tumbal pembangunan jembatan. Tetapi, bagaimana masyarakat bisa terpedaya oleh isu yang tidak masuk akal itu? Lalu, untuk apa isu penculikan anak-anak kecil sebagai tumbal pembangunan jembatan Suramadu diproduksi?
Polisi boleh-boleh saja mengangap isu tersebut sebagai sensasi belaka, apalagi memang tidak mudah dibuktikan kebenarannya. Tetapi, bagi masyarakat, tidaklah penting mempersoalkan apakah pembangunan Jembatan Suramadu itu benar-benar memerlukan tumbal atau isu itu hanyalah sensasi yang dibuat oleh orang yang kurang kerjaan. Yang jelas, masyarakat memiliki memori kolektif yang membenarkan isu tersebut.
Masyarakat kita tidaklah asing terhadap perkataan tumbal. Tumbal berhubungan dengan sesuatu yang ditanam untuk menolak penyakit (tolak bala). Pada zaman dulu, rumah atau kebun biasa dipasangi tumbal agar terhindar dari bahaya atau kekuatan jahat. Di samping itu, tumbal juga diartikan sebagai pengorbanan manusia, biasanya untuk menggapai hal-hal yang besar. Di sebagian masyarakat kita, tumbal masih menjadi bagian penting dari suatu upacara, seperti petik laut, selamatan desa, dan sebagainya.
Kosmologi semacam itu tidak serta merta hilang begitu saja oleh budaya modern. Bahkan, tumbal menjadi persoalan seremoni negara ketika proyek-proyek pembangunan hendak dimulai. Hal ini mirip dengan tradisi kerajaan-kerajaan prakolonial. Pada zaman raja-raja, simbol-simbol kerajaan, upacara, dan prosesi, merupakan unsur-unsur vital untuk menciptakan kekuasaan dan potensi yang memungkinkan raja memerintah. Ritual kerajaan melambangkan kebesaran kekuasaan raja (lihat Clifford Geertz, Negara: The Theatre State in Nineteenth-Century Bali, Princeton University Press).
Oleh karena itu, ketika Orde Baru memulai proyek-proyek pembangunan, pada saat yang sama isu perburuan kepala manusia juga muncul mengiringinya. Saya masih teringat betul tentang ceritapekpekan pada tahun 1970-an, saat saya masih anak-anak. Konon, pekpekan adalah orang yang pekerjaannya berburu kepala manusia, terutama anak-anak.
Ia digambarkan berpakaian lusuh, bersenjata tajam, membawa karung besar untuk tempat kepala.Pekpekan berkeliaran mencari mangsa di siang hari dengan berkedok mencari barang-barang bekas. Makhluk yang disebut pekpekan itu akan menculik anak-anak yang sedang berkeliaran di siang hari, lalu memotong kepalanya. Konon, kepala itu akan dijual kepada orang yang membutuhkannya sebagai tumbal membuat jembatan, gedung-gedung dan sebagainya, persis dengan isu yang beredar di sekitar Surabaya-Madura beberapa hari lalu.
Isu perburuan kepala manusia juga berembus kencang di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, pada tahun 1980-an. Anna L Tsing dalam In the Realm of the Diamond Queen melaporkan bahwa orang-orang Dayak Meratus mempercayai desas-desus tentang perburuan kepala mereka oleh petugas pemerintah, dan hal ini dikaitkan dengan mesin-mesin pengeboran minyak milik Pertamina yang tidak berfungsi. Dipercayai oleh orang-orang Meratus bahwa kepala mereka akan dijadikan tumbal agar mesin-mesin pengeboran minyak itu dapat berfungsi kembali.
Jadi, masyarakat kita memang punya memori kolektif yang membenarkan hubungan antara tumbal dan proyek-proyek pembangunan, terutama proyek yang dikerjakan pemerintah.
Resitensi
Namun, dalam konteks Jembatan Suramadu, reproduksi isu perburuan kepala tampaknya punya makna lain. Kita tahu bahwa rencana pembangunan Jembatan Suramadu tidak berjalan mulus sebagaimana diharapkan pemerintah.
Terdapat perbedaan pandangan yang tajam antara pemerintah yang menganut paradigma ekonomi dan masyarakat Madura, terrutama ulama, yang menganut paradigma moral. Ideologi pembangunan berhadapan dengan tradisi. Pembangunan Jembatan Suramadu akhirnya mengalami penundaan gara-gara sikap kritis masyarakat Madura yang dipelopori oleh ulama, yang kemudian tergabung dalam Badan Silaturahmi Pesantren Madura (Bassra).
Sebagaimana ditunjukkan Muthmainnah dalam Jembatan Suramadu: Respons Ulama terhadap Industrialisasi, semula masyarakat Madura mengira bahwa pembangunan Jembatan Suramadu hanya untuk memperlancar arus tranportasi. Tetapi, dari Keppres RI Nomor 55/1990 diketahui bahwa pembangunan jembatan itu ternyata satu paket dengan industrialisasi Madura.
Di sinilah masalahnya. Sebagian masyarakat Madura, terutama para ulama, mengkhawatirkan dampak yang ditimbulkan oleh industrialisasi itu. Mereka tidak berarti menolak pembangunan jembatan, tetapi kritis terhadap rencana industrialisasi. Ulama menghendaki industrialisasi itu harus "Indonesiawi, manusiawi, dan Islami".
Indonesiawi berarti industrialisasi itu harus untuk kepentingan bangsa Indonesia; manusiawi berarti industrialisasi itu harus menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia; dan Islami berarti harus sejalan dengan nilai-nilai Islami, tidak boleh ada kegiatan yang bertentangan dengan Islam.
Di samping itu, pembangunan Jembatan Suramadu juga mengundang perlawanan dari masyarakat Madura yang terkena pembebasan tanah. Telah menjadi kecenderungan Orde Baru bahwa tanah rakyat yang terkena proyek pembangunan dihargai sangat murah. Dengan berlindung di balik asas "hak menguasai negara" pemerintah Orde Baru dapat sesukanya menggusur rakyat dari tanah miliknya.
Begitu pula yang terjadi di Madura seiring dengan rencana pembangunan Jembatan Suramadu. Pemerintah dianggap tidak adil dan sangat merugikan rakyat, karena menetapkan ganti rugi tanah dan bangunan di atasnya jauh di bawah harga yang ditawarkan rakyat.
Di samping itu, juga terdapat tempat-tempat keramat yang pantang diusik, seperti makam Kyai Syafii dan Nyai Nalimah di Desa Pangpong, Kabupaten Bangkalan. Mereka diyakini sebagai nenek moyang masyarakat Pangpong dan keturunan Sunan Giri (lihat Muthmainnah, Jembatan Suramadu: Respons Ulama terhadap Industrialisasi, LKPSM).
Melihat riwayat pembangunan Jembatan Suramadu tersebut, reproduksi isu tumbal kepala anak-anak tampaknya masih terkait dengan resistensi sebagian masyarakat terhadap pembagunan jembatan itu. Ada semacam kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan dari sebagian masyarakat terhadap pembangunan Jembatan Suramadu.
Bisa karena alasan ekonomis, dan bisa pula karena alasan tradisi. Kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan semacam itu dulu dapat tersalurkan, terutama lewat para ulama. Namun, saat ini para ulama pun bisa dikatakan "sepakat" terhadap pembangunan Jembatan Suramadu. Tidak muncul perlawanan terbuka seperti tahun 1990-an.
Hal ini mengingatkan saya pada tesis James Scott tentang everyday forms of resistance. Menurut Scott,everyday forms of resistance merupakan bentuk perlawanan terselubung dari petani miskin terhadapeveryday forms of repression yang dilakukan secara terbuka oleh para tuan tanah.
Dengan demikian, isu penculikan anak-anak yang menggemparkan masyarakat sekitar Surabaya dan Madura belakangan ini punya kaitan dengan pergeseran pandangan dan sikap masyarakat terhadap pembangunan jembatan tersebut.
Isu itu menandai adanya aspirasi "lain" (the others); siasat resistensi bagi sebagian masyarakat yang membayangkan dirinya akan menjadi "tumbal" pembangunan jembatan tersebut. Mereka membayangkan jembatan itu cepat atau lambat akan menyingkirkan dirinya. Jembatan Suramadu dibayangkan akan melahirkan marginalisasi baik di bidang ekonomi, sosial, politik, maupun budaya.
Oleh karena itu, bagi mereka tinggal satu jalan, yaitu mereproduksi isu, desas-desus. Dan, memori kolektif masyarakat menjadikan isu atau desas-desus itu sebagai "realitas".
(Andang Subaharianto, staf pengajar Fakultas Sastra Universitas Jember, 22 April 2002, http://groups.yahoo.com/group/asidharta/message/728)

C.    Sinopsis Cerpen Tumbal Suramadu Karya Muna Masyari
Dalam memori seorang ibu, kota itu tak kurang dari kawanan perampok raksasa beringas dan bermata bengis. Ia akan meremukkan siapa yang dianggap lengah dan lemah. Perampok itu akan merampas apa yang dipunyai orang kecil seperti tanah, rumah, sawah, sungai, bahkan area pekuburan. Semua dirampas lalu disulap mejadi gedung-gedung yang hanya boleh dimasuki orang-orang berbaju rapid an wangi.
Ibu itu cemas dan khawatir soal terbentangnya jembatan suramadu. Karena kkawatir jembatan itu akan merampas apa yang menjadi miliknya, ia juga takut anak semata wayangnya direnggut dan ditelan oleh mulut raksasa alias jembatan itu. Maka dari itu, Ibu itu mengirimkan anak semata wayangnya ke pondok pesantren yang tak mungkin dijamah oleh perampok raksasa itu. Karena perampok raksasa itu bau amis. Darah membercak di kujur tubuhnya. Dari yang sudah mengental kering dengan warna kehitaman, hingga yang masih membasah berwarna merah segar.
Suatu ketika ada seorang lelai tambun yang sering dipanggil Pak Klebun datang ke rumah ibu itu. Raut muka ibu itu berubah keruh karena ibu itu tahu tujuan jahat Pak Klebun. Pak Klebun datang hendak merampas apa yang telah menjadi milik ibu itu, yaitu memangkas pohon nangka yang katanya mengganggu pelebaran jalan. Ibu itu bersikeras tidak mau menebang pohon nangka warisan kakeknya meski diiming-imingi uang tiga juta rupiah. Pak Klebun berusaha keras merayu karena tempat itu sangat strategis dan akan ditawarkan pada investor sebagai tempat pembangunan industri garam. Sudah tiga kali Pak Klebun datang membujuk, tetapi ibu itu selalu menolak dan menolak. Pak Klebun akan menebang paksa. Apakah ibu itu akan mampu bersiteguh mempertahankan pohon nangkanya?

D.    Analisis Cerpen Tumbal Suramadu Karya Muna Masyari terhadap Artikel Tumbal Jembatan Suramadu Karya Andang Subaharianto
1.      Kenyataan Objektif Cerpen Tumbal Suramadu terhadap Realitas Artikel Tumbal Jembatan Suramadu
Cerpen Tumbal Suramadu karya Muna Masyari terinspirasi dari kisah nyata atau realitas berdirinya jembatan suramadu. Muna Masyari mengambil sekelumit keadaan masyarakat di sana pada waktu itu, kemudian ia menuliskan cerpennya ini. Tidak semuanya sama antara kenyataan dan cerpen yang dituliskannya, karena sekali lagi karya sastra merupakan hasil imajinasi pengarangnya. Meskipun pada kenyataannya imajinasi itu terilhami dari suatu realitas yang terjadi di masyarakat.
Dalam artikel dinyatakan, penculikan anak untuk dijadikan tumbal yaitu 1000 kepala bocah membuat masyarakat resah. Tak ada orangtua rela kepala anaknya dijadikan tumbal pembangunan jembatan. Hal ini sesuai dengan salah satu penggalan cerpen dalam cerpen karya Muna Masyari, yaitu sebagai berikut.
“KULIHAT di kepala ibu, kota itu tak kurang dari kawanan perampok raksasa yang beringas dan bermata bengis. Ia akan meremukkan sesiapa yang dianggapnya lengah dan lemah. Matanya menyimpan bilah-bilah pedang. Siap menjagal leher-leher menonggak tegak. Tangan kekarnya menggenggam palu besi, siap dihantamkan pada batok kepala yang kokoh mendongak, hingga tekuk. Menunduk takluk. Tak berkutik. Sepasang kakinya akan menginjak apa saja yang dianggap menghadang, hingga menjadi remah-remah tak bernilai. Kuku-kuku tajam dan panjang siap mencakar.”

Di samping itu, pembangunan Jembatan Suramadu juga mengundang perlawanan dari masyarakat Madura yang terkena pembebasan tanah. Telah menjadi kecenderungan Orde Baru bahwa tanah rakyat yang terkena proyek pembangunan dihargai sangat murah. Dengan berlindung di balik asas "hak menguasai negara" pemerintah Orde Baru dapat sesukanya menggusur rakyat dari tanah miliknya. Hal ini mungkin menjadi inspirasi Muna Masyari dalam cuplikan cerpennya sebagai berikut.
“Benar, di kepala ibu, kota hanyalah perampok. Merampok apa-apa yang dipunya orang kecil. Tanah, rumah, sawah, sungai, bahkan area pekuburan. Semua dirampas, lalu disulap menjadi gedung-gedung yang hanya boleh dimasuki orang-orang berbaju rapi dan wangi.”
Dalam artikel yang ditulis Andang S menyatakan bahwa dalam konteks Jembatan Suramadu, reproduksi isu perburuan kepala tampaknya punya makna lain. Kita tahu bahwa rencana pembangunan Jembatan Suramadu tidak berjalan mulus sebagaimana diharapkan pemerintah. Terdapat perbedaan pandangan yang tajam antara pemerintah yang menganut paradigma ekonomi dan masyarakat Madura, terrutama ulama, yang menganut paradigma moral. Ideologi pembangunan berhadapan dengan tradisi. Pembangunan Jembatan Suramadu akhirnya mengalami penundaan gara-gara sikap kritis masyarakat Madura yang dipelopori oleh ulama, yang kemudian tergabung dalam Badan Silaturahmi Pesantren Madura (Bassra). Cuplikan artikel ini mungkin telah menginspirasi Muna Masyari bahwa kalau anak ibu itu dimasukkan ke pesantren maka perampok itu tidak akan berani menjamah, seperti dalam cerpennya sebagai berikut.
“Aku mengerti. Sangat mengerti. Begitupun ketika ibu lebih tenang mengirimku ke pondok pesantren daripada melanjutkan ke sekolah negeri. Ibu pikir, hanya di pondok pesantren yang sulit—bukan tak mungkin—dijamah tangan-tangan perampok raksasa.”
Artikel Andang yang menyebutkan bahwa pembangunan Jembatan Suramadu juga mengundang perlawanan dari masyarakat Madura yang terkena pembebasan tanah. Telah menjadi kecenderungan Orde Baru bahwa tanah rakyat yang terkena proyek pembangunan dihargai sangat murah. Dengan berlindung di balik asas "hak menguasai negara" pemerintah Orde Baru dapat sesukanya menggusur rakyat dari tanah miliknya. Artikel ini juga tercermin pada cerpen Muna sebagai berikut.
“Dari bocoran carek yang kudengar, sebentar lagi ada pelebaran dan pengaspalan di jalan lintas depan rumah. Pak Klebun meminta agar pohon nangka yang rindang dan sering berbuah lebat itu ditebang, sekaligus mengikhlaskan 1,5 meter halaman rumah untuk pelebaran jalan.
Masih menurut yang aku dengar, tanah catoh di ujung desa bagian selatan yang terletak di pinggir jalan sana, sangat strategis untuk ditawarkan pada investor sebagai pembangunan industri garam. Selain tanahnya luas, tidak terlalu jauh dari kawasan tambak, desa ini juga masuk pinggir kota yang mudah dikembangkan. Maka, langkah awal tentu harus ada pelebaran dan pengaspalan jalan. Tanpa ada ruas jalan yang memadai sebagai sarana lalu-lintas, tentu investor akan berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya di sini.
Namun ibu menolak keras ketika pohon nangkanya menjadi salah satu pohon yang harus ditumbangkan demi pelebaran jalan tersebut. Ia tidak mau pohon nangka berusia puluhan tahun itu ditebang.”
2.      Artistik
Cerpen merupakan karya sastra yang bermediakan bahasa. Memang sastra adalah seni bermediakan bahasa. Bahasa dalam sastra mengemban fungsi komunikatif. Untuk memperoleh efektivitas pengungkapan, bahasa dalam sastra dalam hal ini cerpen disiasati, dimanipulasi, dan didayagunakan secermat mungkin sehingga tampil dengan sosok yang berbeda dengan bahasa nonsastra.
Bahasa nonsastra ditampilkan lugas, apa adanya dan tidak menyuguhkan cerita. Bahasa non sastra seperti artikel karya Andang S tersebut menggunakan bahasa yang rasional dan denotatif. Sedangkan bahasa pada cerpen Muna Masyari mengandung bahasa yang emotif, konotatif, melenggok-lenggok tetapi cerpen Muna Masyari juga menggunakan bahasa yang denotatif dan lugas. Sebagai contoh, yaitu sebagai berikut.
ARTIKEL: Pembangunan Jembatan Suramadu juga mengundang perlawanan dari masyarakat Madura yang terkena pembebasan tanah. Telah menjadi kecenderungan Orde Baru bahwa tanah rakyat yang terkena proyek pembangunan dihargai sangat murah. Dengan berlindung di balik asas "hak menguasai negara" pemerintah Orde Baru dapat sesukanya menggusur rakyat dari tanah miliknya.
CERPEN: Dari bocoran carek yang kudengar, sebentar lagi ada pelebaran dan pengaspalan di jalan lintas depan rumah. Pak Klebun meminta agar pohon nangka yang rindang dan sering berbuah lebat itu ditebang, sekaligus mengikhlaskan 1,5 meter halaman rumah untuk pelebaran jalan. Masih menurut yang aku dengar, tanah catoh di ujung desa bagian selatan yang terletak di pinggir jalan sana, sangat strategis untuk ditawarkan pada investor sebagai pembangunan industri garam. Selain tanahnya luas, tidak terlalu jauh dari kawasan tambak, desa ini juga masuk pinggir kota yang mudah dikembangkan. Maka, langkah awal tentu harus ada pelebaran dan pengaspalan jalan. Tanpa ada ruas jalan yang memadai sebagai sarana lalu-lintas, tentu investor akan berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya di sini. Namun ibu menolak keras ketika pohon nangkanya menjadi salah satu pohon yang harus ditumbangkan demi pelebaran jalan tersebut. Ia tidak mau pohon nangka berusia puluhan tahun itu ditebang.
Dalam perbandingan kedua jenis tulisan ini, kedua tulisan ini mudah untuk dipahami, lugas dan denotatif. Cerpen Tumbal Suramadu yang notabene karya sastra tidak melulu menggunakan bahasa yang konotatif, emotif dan mendayu-dayu. Sedikit pula majas atau gaya bahasa yang digunakan. Bahasa yang konotatif, emotif dan mendayu-dayu dicontohkan dalam penggalan di bawah ini, sebagai berikut.
“KULIHAT di kepala ibu, kota itu tak kurang dari kawanan perampok raksasa yang beringas dan bermata bengis. Ia akan meremukkan sesiapa yang dianggapnya lengah dan lemah. Matanya menyimpan bilah-bilah pedang. Siap menjagal leher-leher menonggak tegak. Tangan kekarnya menggenggam palu besi, siap dihantamkan pada batok kepala yang kokoh mendongak, hingga tekuk. Menunduk takluk. Tak berkutik. Sepasang kakinya akan menginjak apa saja yang dianggap menghadang, hingga menjadi remah-remah tak bernilai. Kuku-kuku tajam dan panjang siap mencakar.”
Penggalan cerpen Muna Masyari ini mengandung bahasa yang emotif dan konotatif. Misalnya, kalimat “…kawanan perampok raksasa yang beringas dan bermata bengis.” Perampok raksasa ini merupakan sebutan untuk pemerintah yang sewenang-wenang merebut tanah masyarakat Surabaya-Madura.
3.      Pesan Penulis Cerpen Tumbal Suramadu
Muna Masyari yang miris terhadap kenyataan pembangunan jembatan suramadu ingin mengungkapkan ekspresinya lewat cerpen yang dibuatnya. Ia mungkin ingin berpesan pada pemerintah bahwa jangan ada lagi tumbal apabila hendak melakukan proyek-proyek pembangunan, baik tumbal secara ritual seperti pemenggalan kepala ataupun tumbal secara kasat mata, yaitu merampas tanah milik orang miskin.
E.     Kesimpulan
Kesimpulan dari paparan dan analisis di atas adalah karya sastra merupakan suatu ekspresi penulis yang diungkapkan dengan media bahasa. Ekspresi penulis atau pengarang karya sastra bisa diilhami atau terinspirasi dari realitas sosial masyarakat di daerah tertentu.
Perbedaan karya sastra dan non karya sastra bisa dilihat dari bahasanya dalam segi artistiknya. Karya sastra seperti cerpen biasanya menggunakan bahasa yang konotatif, emotif, dan mendayu-dayu, biasanya pula mempunyai plot sedangkan teks nonsastra seperti artikel menggunakan bahasa yang lugas dan to the point.
F.     Daftar Pustaka
Andang Subaharianto. 2002. Tumbal Jembatan Suramadu.             http://groups.yahoo.com/group/asidharta/message/728. [Diakses pukul 16:20                       WIB, tanggal 13 Maret 2012].
Burhan Nurgiyantoro. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM Press.
Kasnadi dan Sutejo. 2010. Apresiasi Prosa. Yogyakarta: Pustaka Felicha.
Kasnadi dan Sutejo. 2010. Kajian Prosa: Kiat Menyisir Dunia Prosa. Yogyakarya:            Pustaka Felicha.
Muna Masyari. 2012. Tumbal Suramadu.       http://lakonhidup.wordpress.com/2012/02/22/tumbal-suramadu/. [Diakses pukul            16:33, tanggal 13 Maret 2012].


G. lampiran
Tumbal Suramadu
Cerpen Muna Masyari (Jawa Pos, 19 Februari 2012)
http://lakonhidup.files.wordpress.com/2012/02/tumbal-suramadu-ilustrasi-budiono.jpg?w=426
KULIHAT di kepala ibu, kota itu tak kurang dari kawanan perampok raksasa yang beringas dan bermata bengis. Ia akan meremukkan sesiapa yang dianggapnya lengah dan lemah. Matanya menyimpan bilah-bilah pedang. Siap menjagal leher-leher menonggak tegak. Tangan kekarnya menggenggam palu besi, siap dihantamkan pada batok kepala yang kokoh mendongak, hingga tekuk. Menunduk takluk. Tak berkutik. Sepasang kakinya akan menginjak apa saja yang dianggap menghadang, hingga menjadi remah-remah tak bernilai. Kuku-kuku tajam dan panjang siap mencakar.
Kulihat di kepala ibu, kota itu tak kurang dari kawanan perampok raksasa titisan kanibal. Mulutnya menganga lebar. Berperut lapar. Maka, ketika ibu-ibu bercerita tentang kota pada anaknya menjelang tidur, si anak akan bertanya; besok pagi, giliran siapa dimakan siapa? Si ibu akan menjawab; menghindarlah, maka kau akan selamat!
Kulihat di kepala ibu, kota itu tak kurang dari kawanan perampok raksasa yang begitu amis. Darah membercak di kujur tubuhnya. Dari yang sudah mengental kering dengan warna kehitaman, hingga yang masih membasah berwarna merah segar.
Benar, di kepala ibu, kota hanyalah perampok. Merampok apa-apa yang dipunya orang kecil. Tanah, rumah, sawah, sungai, bahkan area pekuburan. Semua dirampas, lalu disulap menjadi gedung-gedung yang hanya boleh dimasuki orang-orang berbaju rapi dan wangi.
Maka, terbentangnya jembatan suramadu sepanjang kurang lebih 5,4 kilometer itu, di mata ibu, serupa lengan raksasa yang dijulurkan dari seberang. Siap meremas pulau terapung ini. Begitu mencemaskan dan mengancam. Tidak heran, ibu begitu khawatir tangan raksasa itu merampas apa-apa yang dimilikinya; termasuk aku. Ibu cemas, anak semata wayangnya ini direnggut dari pengkuannya, lalu ditelan mulut raksasa.
“Jangan pernah tinggalkan Ibu, Cong! Hanya kamu yang Ibu miliki,” desah ibu, risau.
Aku mengerti. Sangat mengerti. Begitupun ketika ibu lebih tenang mengirimku ke pondok pesantren daripada melanjutkan ke sekolah negeri. Ibu pikir, hanya di pondok pesantren yang sulit—bukan tak mungkin—dijamah tangan-tangan perampok raksasa.
Aku patuh. Sepatuh saat ibu memintaku menganga sewaktu dulu menyuapiku.
***
Gelap. Kata Nom Makmun, sambungan kabel listrik ke rumah tersangkut pohon bambu yang tumbang saat hujan dan angin mengamuk siang tadi. Terputus dan belum sempat disambung kembali.
Kami memang hanya menyambung listrik dari rumah Nom Makmun, tetangga sebelah yang terpisah dua petak ladang dengan rumah kami. Cukup diminta menyumbang bayaran rekening sebesar 10.000 rupiah tiap bulan olehnya. Toh, yang kami gunakan hanya dop-dop 5 watt di kamar, di serambi, dan pojok belakang rumah yang berdekatan dengan kandang ayam. Menjelang tidur, lampu kamar pun dimatikan.
Malam ini, ibu duduk menghadap dhamar talempek sambil menjahit sarungku yang lepas jahitannya. Sudah menjadi kebiasaan, setiap aku pulang karena liburan pesantren, ibu memeriksa sarung dan baju-bajuku yang lepas jahitannya atau robek tersangkut paku, untuk dijahit kembali. Baju yang tanggal kancingnya, diganti yang lain meski beda dengan warna baju, dan tampak mencolok.
Ujung benang dijilat supaya memudahkan perempuan sabar itu memasukkannya ke lubang jarum. Didekatkan ke dhamar yang menyala kewalahan dengan pandangan ditajamkan. Laron-laron berseliweran mencium dhamar yang terbuat dari bekas kaleng susu di depannya, berebutan mendahului tangan ibu.
Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Ibu memintaku membukanya.
Agak sulit kukenali wajah gelap Pak Klebun yang berdiri di depan pintu. Untung pita suarannya yang berat masih tersimpan di kepala.
“Ibumu ada, Mad?”
Puntung rokok yang masih mengepulkan asap tipis langsung dibuangnya ke halaman.
Tanpa menjawab, kuajak Pak Klebun masuk dengan anggukan samar.
Raut muka ibu berubah keruh. Tak perlu mengangkat wajah, ibu sudah tahu siapa yang bertamu, dan maksud kedatangannya. Ia menyerahkan sarung yang selesai dijahit beserta gulungan benangnya padaku.
Aku mundur, masuk ke kamar. Bisa kutebak, sebentar lagi akan ada percakapan yang sama antara ibu dan Pak Klebun. Percakapan tentang pohon nangka besar di sudut depan halaman, yang terletak di pinggir jalan.
Dari bocoran carek yang kudengar, sebentar lagi ada pelebaran dan pengaspalan di jalan lintas depan rumah. Pak Klebun meminta agar pohon nangka yang rindang dan sering berbuah lebat itu ditebang, sekaligus mengikhlaskan 1,5 meter halaman rumah untuk pelebaran jalan.
Masih menurut yang aku dengar, tanah catoh di ujung desa bagian selatan yang terletak di pinggir jalan sana, sangat strategis untuk ditawarkan pada investor sebagai pembangunan industri garam. Selain tanahnya luas, tidak terlalu jauh dari kawasan tambak, desa ini juga masuk pinggir kota yang mudah dikembangkan. Maka, langkah awal tentu harus ada pelebaran dan pengaspalan jalan. Tanpa ada ruas jalan yang memadai sebagai sarana lalu-lintas, tentu investor akan berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya di sini.
Namun ibu menolak keras ketika pohon nangkanya menjadi salah satu pohon yang harus ditumbangkan demi pelebaran jalan tersebut. Ia tidak mau pohon nangka berusia puluhan tahun itu ditebang.
“Sudah saya katakan, saya tidak akan menebang pohon itu, berapa pun Bapak akan memberi saya kerugian!”
“Tapi ini untuk kepentingan umum, Bu.” Bujuk Pak Klebun, beralasan. Sudah ketiga kalinya lelaki tambun itu datang untuk membujuk ibu.
“Bapak boleh meminta pohon apa saja di belakang rumah, asal jangan meminta saya menebang pohon yang di depan sana!”
“Masalahnya, pohon itulah yang mengganggu pelebaran jalan, Bu!”
“Terserah apa mau Bapak. Yang jelas, saya tidak akan pernah mengizinkan!”
Ibu tetap gigih. Ganti rugi sebesar tiga juta rupiah yang diiming-imingi Pak Klebun sejak pertama datang kemari, tidak menggoyahkan penolakannya. Bahkan, Pak Klebun berjanji akan membantu ibu jika uang tersebut mau digunakan untuk mendafarkan diri sebagai pelanggan PLN. Barangkali Pak Klebun menyangka ibu akan tergoda pada tawarannya di saat rumah gelap seperti ini.
Tidak. Pak Klebun belum tahu. Dulu, almarhum ayah sudah berniat menjual pohon nangka tersebut untuk biaya penyambungan PLN yang waktu itu masih seharga 2 juta rupiah. Namun ibu tidak setuju. Ia lebih suka menyambung dari rumah Nom Makmun, atau cukup menggunakan dhamar talempek daripada harus menjualnya.
Aku paham apa yang ibu pikirkan. Sangat paham.
Itu pohon nangka peninggalan kakek. Batang pohonnya lebih besar dari pelukan orang dewasa. Dahan-dahannya melebar rindang. Bila dilihat dari kejauhan, seperti pohon raksasa yang gelap oleh rerimbun daun. Bila kemarau, tetangga dekat berdatangan meminta daunnya untuk pakan kambing. Rantingnya pun sering dipinta untuk dijadikan kayu bakar. Ketika tetangga ada kifayah, ibu menyedekahkan buah nangkanya yang masih muda-muda agar dijadikan sayur lodeh pada ketiga atau ketujuh hari kematian.
Karena teduh, bawah pohon nangka itu juga sering dijadikan tempat istirahat oleh orang-orang yang melintas pulang dari sawah, tempat bermain anak-anak sepulang sekolah, dan menjadi tempat ibu-ibu menunggu penjaja ikan keliling saban pagi. Ibu sengaja menyediakan balai-balai bambu di sana.
Hanya dengan pohon nangka itu ibu bisa berbagi dengan tetangga. Tidak pernah mengeluh meski harus menyapu gugurnya daun-daun yang berserakan di halaman, sampai dua kali sehari; pagi dan sore. Bahkan bila musim hujan, daun-daun itu menempel ke tanah. Tak cukup menggunakan sapu lidi untuk membersihkannya. Harus mencomotnya satu-satu dengan tangan.
Aku paham. Betapa keberatannya perasaan ibu untuk menebangnya.
Bukan itu saja. Bayangan kota di kepala ibu sudah demikian menyeramkan. Aku tahu, ibu juga tidak menyukai adanya pelebaran jalan. Jalan semakin lebar, berarti jarak bersalipan sesama pengguna akan semakin renggang. Ibu khawatir, orang-orang akan malas untuk bertegur-sapa. Apalagi diaspal. Kendaraan-kendaraan tentu semakin berlaju kencang, dan orang-orang yang melintas akan semakin enggan untuk sekadar menyapa atau menoleh ke samping. Hanya meninggalkan kepulan asap.
Itu wajah sinis dan egois kota yang tergambar di kepala ibu. Bagi orang lain, mungkin gambaran yang terlalu naif untuk dijadikan alasan ketidaksetujuannya dilakukan pelebaran jalan. Tapi tidak bagiku. Wajah kota di kepala ibu memang begitu adanya. Sangat mencemaskan.
Di mata ibu, kesejahteraan kota hanya mampu dinikmati orang-orang berduit. Sementara orang-orang kecil dan awam seperti kami hanya dijadikan tumbal. Tidak heran, sejak suramadu diresmikan pengoperasiannya oleh presiden, 10 Juni silam, kecemasan di benak ibu semakin menggunduk saja. Mencipta gunung berapi yang siap memuntahkan ketakutan demi ketakutan yang melahar. Banyak bersinyalir, Madura akan mengalami kemajuan pesat dengan adanya jembatan yang ibarat lengan raksasa tersebut. Namun ibu tidak pernah rela Madura menjelma kota.
Sekarang, lambat-laun kecemasan ibu membayang nyata. Perampokan seolah tengah mengintai di dekatnya. Ibu geram mendengar bujukan Pak Klebun yang tak jera menerima penolakannya.
“Sebaiknya Bapak pulang saja!” ketus ibu. Muak.
“Jadi bagaimana? Apa ibu tetap tidak setuju?” desak Pak Klebun, masih meminta kepastian.
“Tidak!”
“Baik. Kalau begitu, jangan salahkan saya kalau nanti ada penebangan paksa.”
Selesai mengucapkan kalimat gusar itu, Pak Klebun beranjak pulang membawa kejengkelan yang bercokol di dadanya. Kekesalan mudah terbaca dari gerakan kasar dan cara ia pulang tanpa pamit.
“Ibu tidak suka ada pelebaran jalan.” Desah ibu, begitu aku keluar kamar. Hanya sepuluh detik dari kepergian Pak Klebun.
Ibu terduduk lemas di kursi kayu, selesai mengunci pintu. Kulihat, sosok Pak Klabun benar-benar menjelma perampok raksasa di kepala ibu. Tergambar nyata. Menggenggam gergaji berantai besi yang bunyinya meraung-raung memekakkan telinga. Wajahnya sangat mengerikan.
Aku terdiam. Apakah ibu akan mampu bersiteguh mempertahankan pohon nangkanya? (*)
 .
.
Pamekasan, 04-02-2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar